Home > Ragam Berita > Profil Lengkap Menko Kemaritiman Rizal Ramli

Profil Lengkap Menko Kemaritiman Rizal Ramli

Profil Lengkap Menko Kemaritiman Rizal RamliJakarta – Presiden Joko Widodo menjatuhkan pilihannya kepada Rizal Ramli selaku Menko Kemaritiman. Rizal dilantik bersama dengan lima nama yang menduduki pos baru di Kabinet Kerja. Berikut adalah profil lengkap Rizal Ramli yang dilansir Harian Indo dari berbagai sumber (Rabu, 12/8/2015).

Dr. Rizal Ramli (lahir di Padang, Sumatera Barat, 10 Desember 1954; umur 60 tahun) adalah seorang ahli ekonomi dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional dimasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Pengagum Einstein ini sempat menikmati bangku kuliah di jurusan Teknik Fisika – Institut Teknologi Bandung, tetapi akhirnya mendapatkan gelar doktor ekonomi dari Boston University pada tahun 1990.

Sekembalinya dari Amerika Serikat setelah menyelesaikan pendidikan Doktor ekonominya, Ramli bersama beberapa orang ekonom lain seperti Laksamana Sukardi mendirikan ECONIT Advisory Group. Ketika masih aktif sebagai Managing Director Econit, Dr. Rizal Ramli dan rekan-rekannya di lembaga think-tank ekonomi independen ini sering mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah Orde Baru. Misalnya saja kritik terhadap kebijakan Mobil Nasional, Pupuk Urea, Pertambangan Freeport, dan sebagainya. Bersama dengan beberapa orang koleganya Dr. Rizal Ramli mendirikan Komite Bangkit Indonesia (KBI) dan saat ini sekaligus menjabat sebagai ketua.

Dr. Rizal Ramli diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada bulan Agustus 2000. Beberapa hari setelah diangkat sebagai Menko Perekonomian menggantikan Kwik Kian Gie.

Sebagai Seorang Ekonom Alumni Boston University ia juga memiliki jaringan pergaulan Internasional. Ia adalah salah satu ahli ekonomi Indonesia yang dipercaya menjadi penasehat ekonomi PBB bersama ekonom Internasional lainnya seperti peraih Nobel Ekonomi, Prof. Amartya Sen dari Harvard University, serta dua peraih Nobel lainnya, Prof. Sir James Mirrlees Alexander dari Inggris dan Dr. Rajendra K. Pachuri dari Yale University , Helen Hunt dari UNDP, Prof Francis Stewart dari Oxford University, Prof Gustave Ranis dari Yale University, Prof Patrick Guillaumont dari Prancis, Prof Nora Lustig dari Argentina, dan Prof Buarque dari Brasil.[4]

Pada The United Nation’s Second Advisory Panel Meeting bulan Juni 2012, Rizal telah membawa enam topik makalah, yakni Prospect for the Economy and Democracy in Indonesia, Post Yudhoyono Indonesia and Asian Power, Indonesia Strategic Economic & Political Outlook and Asian Powers, Indonesia’s Economic Outlook and Asian Economic Inegration, Indonesian Democracy at The Cross Road, dan Indonesian Economy and Rule of Law under SBY Administration. Seperti panel pada pertemuan pertama, pertemuan kedua juga dihadiri oleh anggota tim ahli PBB dan para pakar pilihan dari berbagai negara.

Rizal memahami dengan baik Ekonomi Global dan sama sekali tidak mungkin ia anti Ekonomi Pasar. Lebih konyol lagi jika ia dinilai anti modal asing. Posisinya sebagai Penasihat Ekonomi PBB merupakan salah satu bukti bahwa pandangan ekonominya bisa diterima masyarakat Internasional. “Kita sudah pasti mendukung ekonomi pasar, tapi ada lima hal yang tidak boleh diserahkan kepada pasar, yakni antara lain pendidikan, kesehatan, militer, keberpihakan kepada rakyat,” kata Rizal.

“Saya sejak awal menyebutkan pentingnya kita mengimplementasikan ekonomi konstitusi,” tambah mantan aktivis ITB Bandung yang pernah dipenjara di Sukamiskin karena memprotes kebijakan pemerintah Orde Baru yang merugikan rakyat. Dalam UUD sudah cukup jelas tercantum sistem ekonomi yang harus dianut Indonesia. “Tinggal kita konsisten saja mengelaborasi UUD itu dalam UU dan peraturan pelaksanaan, dari peraturan pemerintah hingga perda. Tapi, yang sekarang terjadi, kita malah melenceng ke ekonomi neoliberal,” kata Rizal.

Untuk meluruskan kembali Politik dan Ekonomi Indonesia yang dinilainya sudah salah arah, Rizal sejak paruh pertama tahun 2000-an memimpin Indonesia Bangkit, sebuah think-thank yang secara periodic memberikan penilaian tentang situasi sosial-politik dan ekonomi Indonesia. Ia juga rajin mengunjungi desa-desa untuk mengajak masyarakat menggapai Indonesia yang lebih baik.

Sepak terjangnya di dalam negeri juga berhasil merebut simpati rakyat. Dari hari ke hari, popularitasnya terus menanjak. Di tengah “kekeringan” figur negarawan, kehadirannya mampu mengisi harapan rakyat yang menginginkan perubahan. Tapi, dikalangan elite ekonomi, khususnya para pelaku pasar keuangan, ia belum cukup dikenal. ialah satu bukti minimnya pemahaman mereka tentang figure ini adalah penilaian yang keliru. Ke depan, Indonesia memang membutuhkan Tokoh Nasional yang berwawasan Internasional. Negarawan yang konsisten memperjuangkan kepentingan Nasional, tapi mampu meyakinkan masyarakat dunia. (Galang Kenzie Ramadhan – www.harianindo.com)

x

Check Also

Pengacara Hotma Sitompoel Juga Mendapatkan Keuntungan dari Proyek E-KTP

Pengacara Hotma Sitompoel Juga Mendapatkan Keuntungan dari Proyek E-KTP

Jakarta – Hakim di Pengadilan Tipikor Jakarta meyakini, dua terdakwa mantan pejabat di Kementerian Dalam ...