Home > Teknologi > Tidak Mendapat Dukungan Pemerintah, Ilmuwan Indonesia Terpaksa Lepas 80 Hak Paten

Tidak Mendapat Dukungan Pemerintah, Ilmuwan Indonesia Terpaksa Lepas 80 Hak Paten

Jakarta – Hak paten merupakan instrumen penting dalam perkembangan inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan. Instrumen tersebut merupakan alat untuk melindungi karya, temuan, dan inovasi yang dihasilkan oleh para ilmuwan dan penemu dari pembajakan dan penyalahgunaan.
Tidak Mendapat Dukungan Pemerintah, Ilmuwan Indonesia Terpaksa Lepas 80 Hak Paten
Namun demikian, dibutuhkan biaya yang besar untuk mempertahankan paten-paten semacam itu. Dan hal ini tak jarang merepotkan para inventor tersebut.

Sebagai contoh, Rudy Susilo, seorang ahli biokimia dan farmakologi lulusan Free University, Berlin, Jerman, dilaporkan harus merelakan 80 paten miliknya lepas. Ia pernah memiliki lebih dari 90 paten atas riset dan temuan baru yang didaftarkan di Jerman. “Paten-paten itu ada yang untuk saya sebagai inventor dan yang kepemilikannya pada perusahaan tempat saya bekerja dulu,” kata Rudy dalam diskusi di kantor media Tempo, Senin, 17 Agustus 2015, lalu.

Rudy bahkan melepas paten pemrosesan rumput laut yang berlaku di Vietnam, Filipina, dan Thailand. “Terpaksa saya lepas karena dananya kurang,” kata ilmuwan yang sudah berkecimpung lebih dari 30 tahun di dunia riset Jerman.

Rudy yang meraih gelar doktor di Free University dengan predikat summa cum laude itu memang dikenal produktif menghasilkan paten. Dia bisa mendapatkan rata-rata dua paten per tahun. “Jadi kayak kacang goreng saja, setiap tahun ada paten yang saya daftarkan,” kata Rudy yang juga pernah menjabat Direktur Riset dan Pengembangan di Trommsdorff, sebuah perusahaan farmasi di Jerman.

Riset untuk menghasilkan satu paten, kata Rudy, bisa menghabiskan dana hingga tiga juta euro, dana yang tentunya tidak sedikit apalagi bila di kurs kan ke dalam rupiah.

Sementara untuk meneruskan agar hasil temuan baru itu menjadi produk yang bisa dipasarkan, memerlukan biaya lagi sebesar 10 juta euro. Banyak perusahaan yang menolak karena dinilai terlalu mahal untuk meneruskan risetnya. “Akhirnya terpaksa saya lepas patennya, termasuk paten yang tiga juta euro juga hangus,” kenangnya.

Menurut Rudy, hak paten yang sudah didaftarkan bisa berlaku hingga 20 tahun. Agar hak itu tidak hilang, ada sejumlah biaya yang harus dibayarkan oleh pemilik paten. Di Jerman, kata Rudy, ada aturan bahwa perusahaan pemilik hak paten harus mengembalikannya ke inventor jika mereka tidak mau meneruskannya. “Saya nggak kuat bayar karena dananya bisa besar sekali,” kata dia.

Kehilangan banyak paten tak membuat Rudy menyerah. Dia meneruskan riset hingga menghasilkan temuan baru cara mengekstrak buah merah dari Papua. Hasilnya, dia kini memegang empat paten pemrosesan buah merah. “Berlaku di seluruh Eropa, Cina, dan Indonesia,” jelasnya. (Galang Kenzie Ramadhan – www.harianindo.com)

x

Check Also

Debat Cagub Cawagub DKI, Netizen Justru Gagal Fokus ke Ira Koesno

Debat Cagub Cawagub DKI, Netizen Justru Gagal Fokus ke Ira Koesno

Jakarta – Dalam acara Debat Cagub Cawagub DKI Jakarta 2017 yang digelar pada Jumat (13/1/2017) ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis