Home > Gaya Hidup > Di Masa Depan, Manusia Tidak Perlu Dokter Untuk Mendiagnosa Penyakit

Di Masa Depan, Manusia Tidak Perlu Dokter Untuk Mendiagnosa Penyakit

Yogyakarta – Standar kesehatan manusia di berbagai pelosok dunia terus mengalami perbaikan, tingkat hidup dan usia rata-rata manusia pun kini semakin panjang.

Di Masa Depan, Manusia Tidak Perlu Dokter Untuk Mendiagnosa Penyakit

Berdasarkan hasil penelitian, jika sebelumnya rata-rata usia harapan hidup manusia adalah 67 tahun, kini sudah meningkat menjadi 71 tahun. Bahkan di Yogyakarta, rata-rata usia harapan hidup mencapai 80 tahun.

“Tingginya usia harapan hidup penduduk dunia dikarenakan semakin mudahnya masyarakat mengakses layanan kesehatan dan teknologi kesehatan yang kian baik,” kata pakar kesehatan sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UGM, Prof. dr. Iwan Dwi Prahasto, M.Sc., Ph.D, pada hari Kamis (20/8/2015).

Menurutnya, perkembangan teknologi kesehatan yang ada saat ini memungkinkan seseorang untuk mendiagnosa kesehatannya sendiri. Diagnosis diri lewat sensor biochip dan sistem konsultasi pakar medik online di masa datang, akan makin berkembang sehingga manusia akan dimudahkan mendiagnosa penyakitnya sendiri.

“Penyakit dapat dideteksi dalam hitungan detik dan penetapan terapi dapat dilakukan dalam hitungan menit,” terangnya.

Tidak hanya itu, teknologi terapi stem cell atau sel punca yang kini tengah dikembangkan ilmuwan, menjadikan sebagian penyakit dapat diatasi melalui jaringan tubuh manusia itu sendiri. Namun demikian, kata Iwan, tidak semua penyakit bisa diobati, terutama berbagai penyakit yang bersumber dari infeksi virus dan bakteri.

“Hingga saat ini belum ditemukan vaksin untuk ebola, padahal angka kematiannya 90 persen, bahkan kasus flu burung terus dilaporkan termasuk perkembangan strain H5N2,” katanya.

Persoalan kesehatan di masa depan harus menjadi perhatian ilmuwan untuk membuat manusia lebih sejahtera, bermartabat, sehat dan terbebas dari berbagai bencana. Iwan pun mengajak para lulusan sarjana dan diploma harus terlibat aktif dalam mengatasi berbagai persoalan, tidak hanya bidang kesehatan, namun juga di bidang pangan, energi dan lingkungan.

“Tanpa mengatasi problematika di masa depan dengan kearifan lokal, kita bagaikan memutarkan jarum jam ke zaman jahiliyah, menciptakan perang dan kemusnahan, merusak lingkungan untuk membunuh eksosistem dan menghancurkan sumber energi dan pangan yang berarti merenggut masa depan bayi dan balita,” katanya.

Bangsa Indonesia membutuhkan intelektual yang bisa memberikan cermin keteladanan, kepemimpinan, dan kepeloporan yang berorientasi pada tantangan di masa depan. “Intelektual harus peka melihat roda perputaran dunia, perkembangan teknologi dan perubahan perilaku manusia menyongsong masa depan lebih baik,” ucapnya. (Galang Kenzie Ramadhan – harianindo.com)

x

Check Also

Inilah Tato Wulan Guritno Yang Banyak Diperbincangkan Netizen

Inilah Tato Wulan Guritno Yang Banyak Diperbincangkan Netizen

Jakarta – Tato memang salah satu seni lukis tubuh yang digemari, terutama bagi kalangan artis. ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis