Home > Ragam Berita > Begini Cara Agen Agar Tidak Kehabisan “Stok” SPG Cantik

Begini Cara Agen Agar Tidak Kehabisan “Stok” SPG Cantik

Jakarta – Sales Promotion Girl (SPG) selama ini selalu diandalkan untuk menjadi ujung tombak tiap perusahaan untuk menjaring konsumen sekaligus menjajakan produk. Modal paras cantik, kulit mulus dan badan ideal, seakan menjadi syarat utama untuk berprofesi sebagai SPG. Namun pernahkah terpikir darimana perusahaan mendapat jasa para SPG ini?

Biasanya perempuan-perempuan manis tersebut berada di bawah naungan sebuah agen sebelum disalurkan kepada klien. Meski dikelola agen, para SPG ini hanya berstatus pekerja lepas (freelance).

Begini Cara Agen Agar Tidak Kehabisan "Stok" SPG Cantik

Di Indonesia, bisnis agen SPG sudah berkembang sejak lama. Pengelolaan agen ini pun berbeda-beda. Ada yang terbentuk melalui sebuah perusahaan maupun hanya individu.

Lantas, bagaimana keuntungan menjadi agen SPG? Ternyata tidak selamanya jenis bisnis ini menjadi ladang mengumpulkan pundi-pundi meski banyak acara terselenggara di kota-kota besar.

Hal tersebut diungkapkan oleh Fanny Nugraha, Co-Founder SYNERGYlinkCo, yang merupakan salah satu agensi SPG yang cukup besar. Ia menuturkan bahwa bisnis sebagai agen SPG lebih banyak supply dari pada demand. Keluhan itu didasari lantaran tingginya risiko batal kerja sama dengan para klien.

Dia menceritakan, biasanya perusahaan pemilik produk makanan, rokok maupun gadget adalah klien yang kerap memakai jasa SPGnya. Untuk memasarkan ‘anak asuhnya’ ini, Fanny mengaku menggunakan pesan berantai melalui ponsel pintar kepada para klien.

Kesabaran menjadi kunci pria berusia 30 tahun ini menjalani bisnis agen SPG. Diakuinya, selama lima tahun bergelut menjadi agency pihaknya sudah puas menerima ketidakpastian para klien.

“Yang kewalahan itu bukan banyak order tapi bagaimana memikat klien, karena banyak (klien) yang liat-liat doang. Sebab rata-rata klien itu minta foto. Dan rata-rata 50 persen putus batal menyewa jasa SPG,” ungkapnya.

Selain resiko putus kontrak yang besar, pendapatan dari bisnis ini uga tidak menentu. Tergantung berapa banyak anak asuhnya yang direkrut dalam acara. “Kalau kita sekalian jadi EO (event organizer) bisa dapat banyak. Tapi kalau nyalurin SPG saja itu tidak seberapa.”

Bila pengusaha mengeluh karena ketidakjelasan klien, kondisi terbalik justru dirasakan para SPG. Seperti dirasakan perempuan-perempuan manis ini di ajang otomotif tahunan Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2015, yang kebanyakan mengaku senang berprofesi sebagai SPG dengan pendapatan yang tergolong cukup tinggi. (Rani Soraya – www.harianindo.com)

x

Check Also

Inilah Penjelasan Anies Terkait Pidatonya yang Menjadi Polemik

Pidato Politik Perdana Anies: Kini Saatnya Pribumi Jadi Tuan Rumah di Negeri Indonesia

Jakarta – Setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan kemudian menyampaikan pidato politiknya di ...