Home > Ragam Berita > Sejoli Ini Hanya Manfaatkan Spanduk untuk Lampiaskan Hasratnya

Sejoli Ini Hanya Manfaatkan Spanduk untuk Lampiaskan Hasratnya

Batu Karang – Warga korban erupsi Gunung Sinabung yang berasal dari Desa Gurukinayan yang ditempatkan di posko pengungsian Jambur Lau Buah Batu Karang, Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, mulai merasa gelisah. Meski pemerintah dan sejumlah relawan dari berbagai LSM telah menyediakan bantuan kebutuhan hidup, mereka mulai merasa tak nyaman karena tak lagi memiliki privasi, termasuk dalam urusan kebutuhan biologis berupa hubungan suami-istri.
Sejoli Ini Hanya Manfaatkan Spanduk untuk Lampiaskan Hasratnya
Urusan esek-esek tetap jadi kebutuhan yang cukup penting, selain makan dan minum. Apalagi, hingga saat ini belum ada prediksi sampai kapan mereka akan tinggal di pengungsian. Meski begitu, persoalan bilik asmara di pengungsian ini masih jadi dilema.

“Serba salah kami. Perlu ya memang perlu. Tapi kita kan malu juga. Selain masih menjunjung tinggi adat, kita nggak mungkin masuk ke bilik asmara secara terang-terangan. Apalagi pengungsi di sini rata-rata masih punya hubungan saudara. Masih bersaudara semua di sini. Jadi begini sajalah dulu,” kata Tarigan, yang ditemui wartawan Sumut Pos (Jawa Pos Group).

Lalu bagaimana Tarigan dan pasutri lain menyalurkan kebutuhan biologis masing-masing? Ditanya begitu, Tarigan dan beberapa pengungsi lain memilih bungkam. Selain masalah bilik asmara, tidur berhimpit-himpitan dan bercampur baur dengan lelaki dewasa juga jadi masalah, khususnya bagi para remaja.

Kondisi itu dikeluhkan oleh Tawan (16), salah seorang remaja yang sudah dua bulan lebih tinggal di posko pengungsian itu. Selama di pengungsian itu,ia terpaksa harus tidur berhimpit-himpitan bercampur baur dengan laki-laki dan perempuan dewasa.

Tak ada jarak sedikit pun, hanya satu dua buah tas pakaian ditaruh di sela-sela tempat yang biasanya dia tidur bersama kedua orangtuanya sebagai pembatas. Selembar tikar dan dua helai selimut selalu menemani kala mereka beristirahat.

“Sebenarnya, aku sudah malu tidur dengan kedua orangtuaku di pengungsian apalagi berhimpitan-himpitan dengan lelaki dewasa. Walaupun masih ada hubungan saudara, tapi di sana ada bibi (tante), mama (paman), bengkila (suami tante) serta turangku, ya sudah pasti segan. Tapi apa boleh buat dan mau bagaimana lagi. Kadang-kadang risih juga ketika golek-golek di depan banyak orang. Apalagi kalau waktunya mau mandi, semua harus antre menunggu giliran. Sehingga merasa tidak nyaman tinggal di sini,” ujar gadis berkulit sawo matang tersebut.

Dua gadis tanggung yang sedang mengobrol di bawah pohon rindang, mencurahkan keluh kesah mereka. Keduanya mengaku sempat trauma karena pada suatu malam mereka sempat memergoki pasangan sedang melakukan hubungan intim.

“Ketika berjalan, aku melihat ada balai-balai yang dikelilingi spanduk. Saat itu spanduk itu bergoyang-goyang. Karena penasaran aku bukalah spanduk itu sedikit. Setelah spanduk terbuka, betapa terkejutnya aku ada dua orang berlainan jenis sedang bergumul. Karena kaget bercampur takut aku lari meninggalkan balai-balai itu,” kenangnya.

Pemandangan itu katanya, sangat membekas dibenaknya. Karena hal itu belum waktunya untuk dilihatnya. (Galang Kenzie Ramadhan – www.harianindo.com)

x

Check Also

Ini Respon PAN Soal Permintaan Amien Rais Agar Asman Abnur Mundur dari Kabinet

Ini Respon PAN Soal Permintaan Amien Rais Agar Asman Abnur Mundur dari Kabinet

Jakarta – Partai Amanat Nasional (PAN) lebih memilih untuk tetap menjadi partai pendukung pemerintahan dan ...