Home > Ragam Berita > Dua Koran Ternama Berikan Ulasan Saling Bertolak Belakang Terkait Ekonomi Indonesia

Dua Koran Ternama Berikan Ulasan Saling Bertolak Belakang Terkait Ekonomi Indonesia

Jakarta – “Ekonomi lesu,” tulis harian Sindo sebagai headline. Sementara itu, “Ekonomi membaik,” ditulis oleh Kompas sebagai headlinenya. Kedua surat kabar itu sama-sama terbit pada Jumat (6/11/2015).

Beberapa pembaca lantas mempersoalkan dan memperbandingkan judul-judul koran-koran itu, dan yang paling menarik perhatian adalah judul Kompas dan Sindo, sebab dua koran itu menulis judul yang seolah saling berhadapan. Manakah yang lebih dipercaya?

Apabila membaca dengan cermat kedua berita itu, baik Kompas maupun Sindo sebetulnya menggunakan sumber utama yang sama: BPS. Kompas mengutip keterangan yang diberikan oleh Deputi Kepala Badan Pusat Statistik Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Kecuk Suharyanto, sementara Sindo mengutip keterangan Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS, Razali Ritonga, selain Kecuk. Redaksi kedua koran lantas melengkapi berita masing-masing dengan sumber-sumber lain.

Kompas menunjuk pengamat ekonomi UGM, Tony Prasetiantono; Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani; Menteri Perdagangan, Thomas Lembong; dan siaran pers dari Deputi Direktur Departemen Komunikasi BI Andiwiana. Sementara redaksi Sindo memilih keterangan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution; pendapat dari Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance [Indef], Enny Sri Hartati; dan keterangan dari Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Pernyataan “Secara kumulatif, hingga kuartalIII/ 2015, ekonomiIndonesia tumbuh 4,71%” yang ditulis Sindo, adalah relatif sama dengan lead yang ditulis Kompas “Perekonomian Indonesia mulai membaik. Produk domestik bruto triwulan III-2015 tumbuh 4,73 persen, sedikit lebih baik dibandingkan dengan triwulan II-2015 yang sebesar 4,67 persen…” Perbedaannya, setelah pernyataan itu, Sindo melengkapinya dengan pernyataan langsung dan jelas dari Darmin: ”Pertumbuhan ekonominya membaik dari kuartal sebelumnya, tapi tidak cukup tinggi menyerap tenaga kerja. Akibatnya, penganggurannya naik.” Dan tidak dengan Kompas.

Koran itu sebaliknya menjadikan pernyataan yang tidak jelas sumbernya, untuk dijadikan judul kepala berita [halaman satu]: “Perekonomian Mulai Tumbuh.” Celakanya, judul itu kemudian bertabrakan dengan penjelasan dari sumber-sumber yang dipilih Kompas yang sebagian besar menyatakan kondisi perekonomian negara ini sesungguhnya memburuk. Pernyataan Lembong yang menyatakan “Pertumbuhan ekonomi masih lumayan positif…” yang dikutip tidak langsung oleh Kompas untuk membenarkan judul “Perekonomian Mulai Membaik,” malah rancu karena tidak ada penjelasan, apa yang sebetulnya disebut sebagai “lumayan positif.”

Secara singkat perbedaan judul dua koran itu niscaya memang menimbulkan pertayaan: mengapa dengan sumber yang sama, dua koran itu menulis judul berbeda dan saling bertentangan. Dan hal itu tentu saja memalukan dunia kewartawanan. (Yayan – harianindo.com)

x

Check Also

Pengacara Hotma Sitompoel Juga Mendapatkan Keuntungan dari Proyek E-KTP

Pengacara Hotma Sitompoel Juga Mendapatkan Keuntungan dari Proyek E-KTP

Jakarta – Hakim di Pengadilan Tipikor Jakarta meyakini, dua terdakwa mantan pejabat di Kementerian Dalam ...