Home > Travel & Kuliner > Kuliner > Ihh, Ulat Sutra Panggang Menjadi Camilan Kegemaran Masyarakat China

Ihh, Ulat Sutra Panggang Menjadi Camilan Kegemaran Masyarakat China

Jakarta – Ulat sutra tak hanya bermanfaat sebagai penghasil bahan kain yang memiliki kualitas nomor satu di dunia, yakni kain sutra. Ternyata, binatang yang satu ini juga bisa dibudidayakan untuk konsumsi manusia.
Ihh, Ulat Sutra Panggang Menjadi Camilan Kegemaran Masyarakat China
Negara Asia Timur seperti Tiongkok dan Korea ternyata sudah biasa memanfaatkan ulat sutra sebagai olahan kuliner. Bahkan, ulat sutra telah menjadi satu kudapan populer di sejumlah daerah di dua negara tersebut.

Dilansir dari berbagai sumber, Senin (1/2/2016), di wilayah Korea, ulat sutra diolah dengan cara direbus dan dibumbui dengan resep tertentu. Makanan ini dikenal dengan nama “Boendegi”.

Lain halnya di Tiongkok, ulat sutra diolah dengan cara dibumbui lalu dipanggang. Kadang kala, ulat sutra panggang ini juga disajikan mirip sate, yaitu ditusukkan ke sebuah batang bambu.

Setelah diteliti, sebenarnya ulat sutra memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Apalagi, ulat sutra ini memang kerap digunakan sebagai bahan obat-obat tradisional Tiongkok, atau yang kita biasa sebut dengan pengobatan sinshe.

Bahkan, ulat sutra yang sudah menjadi kepompong diyakini memiliki kandungan protein yang lebih besar ketimbang daging ikan, sapi, ataupun kacang-kacangan.

Bagaimana, tertarik mencicipi kuliner ini? (Galang Kenzie Ramadhan – harianindo.com)

x

Check Also

Resep Beef Steak Ala Resto

Resep Beef Steak Ala Resto

Jakarta – Ingin menikmati steak ala restoran namun malas keluar? Cobalah membuat steak sendiri di ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis