Home > Gaya Hidup > Masih Berdebat Tentang Hari Valentine ? Baca Dulu Puisi Ini

Masih Berdebat Tentang Hari Valentine ? Baca Dulu Puisi Ini

Jakarta – Setiap datangnya hari Valentine, di Indonesia sepertinya tidak pernah luput dari ramainya perdebatan terkait haram tidaknya perayaan ini, boleh atau tidaknya hari kasih sayang yang entah sejarahnya bagaimana ini dirayakan.

Masih Berdebat Tentang Hari Valentine ? Baca Dulu Puisi Ini

Tidak hanya di Indonesia hari Valentine diperdebatkan, bahkan ada beberapa negara yang menetapkan perayaan Valentine sebagai sebuah tindak kriminal.

Seperti dikutip dari Republika.co.id, Senin (15/2/2016), ada sebuah puisi yang menggambarkan hari Valentine, berikut puisi yang digubah oleh Denny JA:

Telur Busuk di Hari Valentine

Darwin pun jatuh terduduk
Dihujani belasan telur busuk
Pengunjung mengamuk
Darwin kaget hatinya remuk

Respon publik tak ia duga
Ia hanya bicarakan cinta
“Hari valentine,” ujarnya
“Sebaiknya menjadi hari raya dunia
Melampaui sekat agama
Melampaui sekat negara
Melampaui semua budaya
Yang memisahkan manusia
Kita butuh cinta
Ya, cinta saja.”

Bukan dukungan yang ia dapat
Tapi kemarahan massa
“Astaga,!” ujarnya
“Apa yang salah?”

Satu telur busuk ia pegang
Jiwanya terguncang
Lebih terguncang lagi ia punya mata
Itu telur meletus

Ha?
Seketika keluar burung dari telur itu
Membesar, membesar dan membesar
Badan burung menabrak atap gedung
Bangunan itu rontok seketika
Semua pengunjung berteriak
Mereka lari tunggang langgang
Telur kecil menjelma burung raksasa

Darwin seketika terduduk
Seolah sigap di atas punggung burung
Keaaaakkk, keaaakkkkkkk
Burung berbunyi mengepak sayap
Membawa Darwin terbang mengangkasa

Darwin hanya terpelongo.
“Astaga! Apa yang terjadi?”
Jantungnya copot

Burung membawanya entah kemana
“Inikah dunia gaib,” tanya Darwin

Dilihatnya di bawah begitu banyak negeri
Satu per satu ia lalui
Dilihatnya lagi ke bawah begitu banyak zaman.
Satu persatu ia lewati

Zaman memang berubah
Dari manusia purba tanpa pakaian
Kini orang lalu lalang dengan jas dan dasi

Namun dibalik pakaiannya
Darwin melihat manusia yang sama
Hanya ada tengkorak berjalan
Dan seonggok hati yang sepi
Mereka sibuk ke sana kemari
Mencoba mengusir sepi

Darwin semakin yakin
Ini manusia dari semua zaman
Ini manusia dari semua wilayah
Mereka membutuhkan cinta
Mereka sibuk menumpuk barang
Namun nihil kasih sayang

“Oh manusia yang celaka,”
ujar Darwin dalam hati
“Betapa mereka ingin dicintai
Betapa mereka ingin dicintai
Namun instink mereka yang sepi
Menciptakan dinding yang tinggi
Instink mereka yang bebal
Menciptakan dinding yang tebal

Mereka dipisah- pisahkan oleh itu dinding
Dinding hasil pikiran mereka yang pening
Dinding itu adalah negara
Dinding itu adalah agama
Dinding itu adalah etnik
Dinding itu adalah ras
Dinding itu adalah level kesadaran
Dinding itu adalah status ekonomi

Mereka yang satu
Mereka yang bersaudara
Kini tak hanya terpisah
Bahkan kadang saling menyerang
Dinding itu membuat mereka gila
Manusia menyerang manusia

Hati mereka ingin merobohkan dinding
Tapi dicegat oleh pikiran mereka sendiri
Hanya sedikit yang mampu melewati dinding

“Astaga,” ujar Darwin, ”
“Ini pengalaman yang luar
Mungkin ini hadiah dari dunia gaib
Apapun namanya.”

Muncul cahaya tiba-tiba
Menjelma gadis bernama Rosa
Membisikannya kata

“Di hatimu, sudah kami tanamkan cahaya
Cahaya yang sama sejak manusia ada
Yang kami tanamkan kepada Adam
Yang kami tanamkan kepada Isa
Yang kami tanamkan kepada Musa
Yang kamu tanamkan kepada Muhammad
Yang kami tanamkan kepada Budha
Yang kami tanamkam kepada Konghuchu
Untuk membawa pesan dari surga.”

Darwin diam terpesona
Tak sempat bilang satu kata
Inikah Jibril, tanyanya?
Ataukah ilusiku belaka?

Rosa kembali membisikkan kata

“Teruslah bicara
Walau mereka menyalipmu
Teruslah bicara
Walau mereka memaksamu hijrah
Teruslah bicara
Walau harus kau belah samudra”

Setelah itu
Darwin seolah melayang dalam cahaya
Berputar-putar
Antara sadar dan tak sadar

Ketika Ia sepenuhnya sadar
Darwin kembali di mimbar
Ia sedang dalam posisi yang sama
Memegang itu telur busuk
Yang dilempar ke wajahnya

Namun pengalaman batin itu
Walau sesaat
Setika mengubah kesadarannya
Mengubah total batinnya
Kini ia senyum saja.

Ia berdiri kembali
dan kembali bicara
Bicara dan bicara

Ujarnya,
“Mari kita rayakan cinta
Selamat Hari Valentine”

Telur busuk kembali mendarat di wajahnya

14 Feb 2016

(Rani Soraya – www.harianindo.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CAPTCHA Image
Refresh Image

*