Home > Ragam Berita > Nasional > ICW Melihat Ada Kejanggalan Dalam Temuan BPK Terkait Sumber Waras

ICW Melihat Ada Kejanggalan Dalam Temuan BPK Terkait Sumber Waras

Jakarta – Febri Hendri selaku Koordinator Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai ada kejanggalan pada termuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait pembelian lahan Rumah Sakit (RS) Sumber Waras. Kejanggalan tersebut, antara lain pelanggaran prosedur yang ditemukan oleh BPK.

ICW Melihat Ada Kejanggalan Dalam Temuan BPK Terkait Sumber Waras

“Kami menilai ada yang janggal dalam temuan BPK yang mengatakan terjadi pelanggaran prosedur dalam pembelian lahan RS Sumber Waras oleh Pemprov DKI Jakarta. Padahal, menurut kami penetapan lokasi sudah sesuai dengan prosedur,” ujar Febri saat dihubungi Kamis (14/4/2016).

Febri menambahkan, BPK keliru dalam menggunakan acuan sebagai prosedur pengadaan lahan. BPK masih menggunakan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2012 yang mengatur perencanaan, pembentukan tim, penetapan lokasi, studi kelayakan dan konsultasi publik.

“Padahal, sudah ada perpres baru, yang merupakan perubahan keempat dari Perpres 71/2012, yakni Perpres 40 tahun 2014. Dalam Pasal 121 Perpres 40 tersebut dikatakan bahwa demi efisiensi dan efektivitas, maka pengadaan tanah di bawah lima hektare dapat dilakukan pembelian langsung antara instansi yang memerlukan dan pemilik tanah,” katanya

Dalam konteks itu pun, Febri membenarkan pernyataan yang dilontarkan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bahwa BPK telah menyembunyikan temuannya. Pasalnya, BPK menggunakan Perpres 71/2012, bukan Perpres 40/2014.

“Makanya, kita pertanyakan mengapa BPK menggunakan Perpres 71/2012 dan bukan perpres terbaru nomor 40/2014. Jika menggunakan Perpres 40/2014, maka tidak a

Ferbri melanjutkan, kejanggalan lainnya adalah penentuan nilai jual objek pajak (NJOP) yang digunakan BPK, di mana BPK masih menggunakan NJOP berdasarkan nilai kontrak tahun 2013. Padahal, Pemprov DKI Jakarta menggunakan NJOP tahun 2014.

Seharusnya BPK menggunakan NJOP tahun 2014, bukan berdasarkan NJOP tahun 2013. BPK juga sebenarnya bisa melakukan perhitungan NJOP sendiri sesuai dengan prosedur, sehingga ada pembandingnya.

Dalam kontrak tahun 2013, dinyatakan bahwa NJOP tanah Rp 15,5 juta per meter persegi, sementara dalam kontrak 2014, NJOP sudah dinaikkan menjadi Rp 20,4 juta per meter persegi.

“Kami berharap KPK tetap lanjutkan kasus ini, apakah ada indikasi mark up atau tidak dalam perhitungan NJOP. Kami tentu berharap KPK tetap objektif dan kuat dalam menyelidik kasus ini serta tidak terpengaruh opini atau tekanan pihak luar,” imbuh Febri. (Yayan – harianindo.com)

x

Check Also

Bertemu CEO Buka Lapak, Sandiaga Uno Lemparkan Pujian

Bertemu CEO Buka Lapak, Sandiaga Uno Lemparkan Pujian

Jakarta – Achmad Zaky selaku CEO Bukalapak menyebut jika wakil gubernur terpilih DKI Sandiaga Uno ...