Home > Ragam Berita > Nasional > Netizen Menduga Ketua BPK Gunakan Sumber Waras Untuk Menutupi Kasusnya

Netizen Menduga Ketua BPK Gunakan Sumber Waras Untuk Menutupi Kasusnya

Jakarta – Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Harry Azhar Aziz kini menjadi sorotan setelah namanya tercantum dalam Panama Papers. Bahkan banyak netizen yang kini beranggapan bahwa kasus dugaan korupsi dalam pembelian lahan RS Sumber Waras yang menyeret Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama hanyalah alat untuk menutupi skandal pribadi sang Ketua BPK.

Netizen Menduga Ketua BPK Gunakan Sumber Waras Untuk Menutupi Kasusnya

Berdasar pengamatan tim Harian Indo, Sabtu (16/4/2016), sebelumnya pernyataan Ketua BPK yang menyebut pembayaran dalam pembelian lahan RS Sumber Waras senilai Rp. 750 Miliar dilakukan Pemprov DKI Jakarta secara tunai pada malam tahun baru. Pernyataan tersebut dinilai aneh dan salah seorang pendukung Ahok, Nong Darol Mahmada, mencoba menjelaskan pandangannya.

“Masuk akal kah uang Rp 750 Miliar dibayar tunai?” ujar Nong Darol membuka pernyataannya, Jumat (15/4) kemarin.

Menurut Nong Darol, uang tunai Rp 750 miliar dalam bentuk pecahan 100 ribu, beratnya dapat mencapai 7,5 ton, itu belum termasuk bungkus dan brankas. Lantas bagaimana cara pengamanan dan pengirimannya?

Selanjutnya Nong menganalogika uang tunai Rp 750 Miliar yang setara dengan 75.000 gepok dapat menghabiskan waktu menghitung yang sangat lama. Bila rata-rata butuh waktu 15 detik per gepok, akan menghabiskan waktu sekitar 13 hari non-stop.


Baca juga:

Mengenai Sumber Waras, KPK Bekerja Berdasar Fakta Dan Bukti

ICW Melihat Ada Kejanggalan Dalam Temuan BPK Terkait Sumber Waras

Jika ingin mengambil uang tunai Rp. 750 miliar juga hanya bisa dilakukan di Bank Indonesia. Sementara itu dari data dokumen, pembayaran yang dilakukan Pemprov DKI menggunakan cek nomor CK 493387 perpindahan antar rekening di Bank DKI. Tanggal deposit cek pada 30 Desember 2014 dan baru masuk rekening RS Sumber Waras tanggal 31 Desember 2014 sebesar Rp 717.905.072.500 Miliar. Setelah dikurangi pajak Rp. 37.784.477.500.

“Tapi Ketua BPK menyebut setoran uang tunai terjadi pada malam hari 31 Desember 2014,” kata dia.

Nong akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Ketua BPK telah melakukan “kebohongan publik” dalam dua hal:

Pertama ialah menyatakan pembayaran Rp750 Miliar dengan tunai yang mustahil jika dipikir dengan akal sehat.

Kedua, Ketua BPK menyatakan tanggal pembayaran pada malam hari menjelang tahun baru (31 Desember), tapi yang benar tanggal 30 Desember 2014.

Dengan penjelasan tersebut, benarkan Ketua BPK hanya menggunakan kasus dugaan korupsi RS Sumber Waras sebagai alat untuk menutupi skandal pribadinya? Kita tunggu saja perkembangan kasus ini selanjutnya. (Rani Soraya – harianindo.com)

x

Check Also

Hebat! Meski Dikeroyok, Anggota Kopassus Ini Bikin 7 Pemuda Mabuk Lari dan 1 Orang Pingsan

Hebat! Meski Dikeroyok, Anggota Kopassus Ini Bikin 7 Pemuda Mabuk Lari dan 1 Orang Pingsan

Jakarta – Seorang anggota Kopassus dari Satuan 81 / Penanggulangan Teror yang bernama Sertu Wahyu ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis