Home > Ragam Berita > Nasional > Setara Institute : “PKI Sebagai Partai Mustahil Bisa Berdiri di Indonesia”

Setara Institute : “PKI Sebagai Partai Mustahil Bisa Berdiri di Indonesia”

Jakarta – Belakangan ini isu terkait propaganda kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) lewat beberapa kegiatan diskusi, penayangan film, hingga penerbitan buku menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Namun isu propaganda tersebut masih diragukan oleh Setara Institute.

Setara Institute : "PKI Sebagai Partai Mustahil Bisa Berdiri di Indonesia"

Berdasar informasi yang dihimpun tim Harian Indo, Selasa (10/5/2016), Hendardi selaku Ketua Setara Institute mengungkap bahwa penyebaran stigma kebencian terhadap PKI justru makin menyudutkan upaya solutif bagi pemenuhan hak-hak korban peristiwa 1965.

“Agak aneh rasanya jika TNI dan Polri merasa sangat yakin PKI akan bangkit,” ungkap Hendardi di hadapan awak media.

Seharusnya pihak TNI dan Polri memiliki intelijen yang dapat memberikan informasi lebih akurat terkait isu kebangkitan PKI. Selain itu kalangan awam pun sebenarnya masih merasa ragu terhadap propaganda kebangkitan PKI sebagai partai.

“PKI sebagai sebuah partai mustahil berdiri di Indonesia,” lanjutnya.

Hendardi berharap pemerintah dapat mengambil jalan tengah agar isu propaganda kebangkitan PKI tidak makin keruh dan kebencian terhadap PKI tidak menimbulkan perpecahan. (Rani Soraya – harianindo.com)

x

Check Also

Dilaporkan Sejumlah Pihak, Habib Rizieq Ajak Dialog Secara Kekeluargaan

Dilaporkan Sejumlah Pihak, Habib Rizieq Ajak Dialog Secara Kekeluargaan

Jakarta – Permasalahan hukum yang tengah membelit Pimpinan Forum Pembela Islam (FPI) Rizieq‎ Syihab diharapkan ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis