Home > Ragam Berita > Nasional > Kisah Dokter Muda Marcella Nyambi Sebagai Pengamen di Kota Manado

Kisah Dokter Muda Marcella Nyambi Sebagai Pengamen di Kota Manado

Manado – Menjadi seorang dokter memang merupakan profesi yang mulia. Meski banyak dokter yang kini bergelimang harta, namun profesi yang erat dengan pengabdian ini memang tak selamanya menjanjikan uang melimpah.

Kisah Dokter Muda Marcella Nyambi Sebagai Pengamen di Kota Manado

Berdasar pengamatan tim Harian Indo, Rabu (18/5/2016), tak sedikit dokter muda yang sedang menjalankan program internship atau bentuk pengabdian pada negara kerap kali harus menjalani kehidupan yang miris.

Salah seorang dokter muda yang kini sedang menjadi pembicaraan hangat di media sosial adalah dr. Marcella. Banyak cerita miris yang beredar terkait kehidupan dr Marcella yang kini sedang ditugaskan di Desa Teep, Kecamatan Amurang Barat, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.

Karena gaji yang kecil sebagai tenaga medis di desa terpencil, dr. Marcella harus rela bekerja sambilan sebagai ‘pengamen’ di Kota Manado, Sulawesi Utara. Perjuangan sebagai ‘pengamen’ memang tak mudah, dokter berparas cantik ini bahkan harus rela ngamen di beragam tempat, seperti hotel dan cafe di Kota Manado.

Lokasi yang harus ditempuh dr. Marcella dari tempatnya bertugas sebagai dokter ke Kota Manado juga tidak dekat. Ia harus menempuh perjalanan sejauh 63 km atau sekitar 2 jam setiap harinya.

Sebagai seorang tenaga medis, dr. Marcella hanya mendapat gaji Rp. 2,5 juta. Gaji tersebut dirasa sangat kurang, mengingat biaya hidup di tempatnya bertugas tergolong cukup mahal, beda halnya dengan biaya hidup di Pulau Jawa. Untuk sekali makan di warung saja, ia mengaku harus merogoh Rp. 20 ribu dengan menu yang sama dengan harga Rp. 10 ribu di Pulau Jawa.

Berikut pengakuan dr. Marcella yang banyak beredar di Facebook:

“Perkenalkan saya dr. Marcella , internsip di desa Teep Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Tolong dibantu tanyakan kenaikan bantuan hidup dasar Rp 2.5 juta itu. Biaya hidup di Indonesia Timur lebih mahal dibandingkan di Jawa. Di sini nasi warteg harganya 20ribu. Kalau di jawa 10ribu saja sudah lengkap lauk dan kenyang. Supaya irit, saya sering makan indomie. Kan harus bayar tempat tinggal (kost) dan transport juga supaya semua cukup.

Untuk survive, saya terpaksa kerja sampingan ngamen di hotel dan gedung perkawinan di ibukota Manado yang jaraknya 63 KM (2 jam perjalanan) dari desa Teep Amurang melewati hutan-hutan dan jurang.”

(Rani Soraya – harianindo.com)

x

Check Also

Empat Terduga Teroris Ditangkap Densus 88 di Cilegon

Empat Terduga Teroris Ditangkap Densus 88 di Cilegon

Jakarta – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri kembali menangkap empat terduga teroris di Cilegon, ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis