Home > Ragam Berita > Nasional > Ternyata Oknum Polda Metro Jaya Juga Pernah Berbisnis Narkoba dengan Freddy Budiman

Ternyata Oknum Polda Metro Jaya Juga Pernah Berbisnis Narkoba dengan Freddy Budiman

Jakarta – Gembong narkoba Freddy Budiman memang telah dieksekusi mati oleh regu tembak Brimob di Nusa Kambangan pada Jumat (29/7/2016) dinihari namun ternyata cerita tentang Freddy Budiman tidak lantas ikut mati begitu sana.

Ternyata Oknum Polda Metro Jaya Juga Pernah Berbisnis Narkoba dengan Freddy Budiman

Masyarakat Indonesia dibuat terkejut dengan munculnya cerita dari Koordinator Kontras, Haris Azhar yang menyebutkan bahwa Freddy Budiman pernah memberikan pengakuan kepadanya pada 2014 lalu terkait keterlibatan aparat dalan peredaran narkoba. Freddy juga mengaku telah memberikan ‘upeti’ hingga puluhan milyar ke BNN, Polri, TNI, dan Bea Cukai agar bisnis narkobanya lancar.

Namun sebelum kehebohan terkait pengakuan Freddy Budiman ini muncul, pada tahun 2011 lalu ternyata Freddy Budiman juga telah terbukti melakukan transaksi jual beli dengan oknum dari Ditnarkoba Polda Metro Jaya, Aipda Sugito. Kasus inilah yang membawa Freddy kemudian dipenjara di LP Cipinang sebelum kemudian ia kedapatan menyelundupkan 1,4 juta pil ekstasi dari Hong Kong, meskipun pada saat itu ia masih dalam penjara di Cipinang.

Kasus tersebut bermula saat Freddy Budiman mendatangi rumah Aipda Sugito, di Jalan Regalia, Ciracas, Jakarta Timur, pada April 2011 lalu.

“Saya tahu rumah Sugito karena saya informan untuk target bandar besar bernama Harun,” kata kesaksian Freddy pada waktu itu.

Saat itu ia melihat mesin pencetak narkoba di rumah Sugito.

“Mas, alat cetak ini bisa dipakai tidak?” tanya Freddy.

“Saya belum tahu cara pakainya, nanti akan saya coba,” jawab Sugito.

“Alat ini untuk apa, Mas?” tanya Freddy.

“Nanti sampeyan juga tahu. Saya lagi ada kerjaan akan nangkap bandar besar,” jawab Sugito.

Setelah itu Freddy pulang.

Lalu pada tanggal 26 April 2011, Sugito memerintahkan anak buahnya, Bripka Bahri Arfianto, untuk mengeluarkan barang bukti narkoba dari brankas untuk dijual guna menutupi kas operasional dengan dalih perintah dari atasannya.

“To, uang kas sudah habis, tolong kamu kondisikan,” kata Sugito menirukan perintah atasannya.

Sugito lantas menawarkan paket 200 gram sabu ke Freddy seharga Rp 140 juta.

Di sisi lain, Freddy sedang kesulitan menyimpan paket sabu yang ia peroleh dari warga Malaysia Ahmad. Sugito lantas menawarkan untuk disimpan di rumahnya.

Keesokan harinya, pada 27 April 2011, Freddy lantas menuju rumah Sugito dan menitipkan paket sabu di lantai dua rumah Sugito. Pada saat itu yang menerima istri Sugito karena Sugito sedang tidak ada di rumah.

Setelah itu Freddy meninggalkan rumah Sugito menuju ke arah Kemayoran. Namun di tengah jalan, Freddy ditangkap oleh polisi dan kedapatan membawa 300 gr putau, 30 gram sabu, dan 0,5 kg bahan sabu.

Atas kejahatan ini Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan hukuman kepada tiga orang pelakunya, yaitu:

1. Aipda Sugito dihukum 9,5 tahun penjara.
2. Bripka Bahri dihukum 9 tahun dan 3 bulan penjara.
3. Freddy dihukum 9,5 tahun penjara.
(Samsul Arifin)

x

Check Also

Hubungan Terlarang, Foto Ibu Bhayangkari Inisial PWA Tersebar di Medsos

Hubungan Terlarang, Foto Ibu Bhayangkari Inisial PWA Tersebar di Medsos

Kendari – Hampir berbarengan dengan penyebaran informasi dugaan hubungan terlarang antara ibu bhayangkari berinisial PWA ...