Home > Ragam Berita > Nasional > Inilah Alasan Wiranto Kenapa WNI Sering Diculik saat Berlayar

Inilah Alasan Wiranto Kenapa WNI Sering Diculik saat Berlayar

Jakarta – Beberapa waktu ini, Warga Negara Indonesia (WNI) kerap menjadi korban penculikan. Kejadian tersebut terjadi saat para korban sedang berlayar. Teaptnya berada di perairan Sabah, Malaysia. Mereka diculik saat memasuki area rawan.

Inilah Alasan Wiranto Kenapa WNI Sering Diculik saat Berlayar

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto menyebutkan pemerintah sudah memberikan peringatan pada kawasan yang rentan terjadi perompakan ataupun penculikan pada jalur laut.

”Yang kena sandera ini kan rata-rata karena masuk wilayah kritis penculikan, itu yang jadi masalah. Oleh karena itu diharapkan kepada seluruh WNI tidak memasuki kawasan yang ditetapkan rawan,” kata Wiranto di Kampus IPDN, Jatinangor, Jawa Barat, Senin (8/8/2016).

Menurut dia, pemerintah Indonesia sudah sangat berhati-hati dan jelas untuk menetapkan suatu kawasan yang rawan penculikan. Kedepannya akan memperketat pengawasan perairan yang memang tak aman untuk dilalui.

Wiranto menyatakan, sudah memberikan imbauan untuk tidak melewati wilayah perairan tersebut. Kendati hingga saat ini ia belum mengetahui jaringan yang melakukan penculikan tersebut karena masih dalam tahap proses.

”Ditunggu saja, jangan mendahului yang belum selesai,” ujar Wiranto. (Tita Yanuantari – harianindo.com)

x

Check Also

Anies Berharap Selepas Pilkada Warga DKI Bisa Bersama Lagi

Anies Berharap Selepas Pilkada Warga DKI Bisa Bersama Lagi

Jakarta – Kandidat Gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan tiga, Anies Baswedan, menyatakan jika dirinya akan ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis