Home > Unik > Lucu > Meme Lucu Sindir Sensor KPI Yang Dinilai Tidak Pada Tempatnya

Meme Lucu Sindir Sensor KPI Yang Dinilai Tidak Pada Tempatnya

Jakarta – Perhatian masyarakat kini kembali tertuju ke lembaga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hal tersebut disebabkan oleh sensor yang diberlakukan oleh KPAI tersebut. Tak sedikit tayangan yang semestinya tidak untuk disensor malah akhirnya disensor. Sedangkan kebalikannya, yang semestinya disensor malah tidak disensor. Hal tersebut lantas membuat para penonton televisi menjadi keheranan.

Meme Lucu Sindir Sensor KPI Yang Dinilai Tidak Pada Tempatnya

Salah satunya adalah film kartun Doraemon. Banyak orang yang menilai bahwa kartun Doraemon tak seharusnya disensor. Sensor tersebut dinilai tak berguna. Pasalnya, apabila tak di sensor, anak-anak sebagai penikmat kartun tersebut tak akan berpikir apapun, tapi setelah disensor justru anak-anak semakin bertanya-tanya tentang sensor tersebut.

Sementara itu, masih banyak film sinetron atau acara lain yang justru pakaiannya lebih terbuka, namun lolos dari sensor. Hal tersebut lantas membuat para netizen di dunia maya beradu kreatifitas untuk menciptakan meme yang terkait dengan sensor dari KPAI tersebut. Berikut ini beberapa meme lucu yang dibuat oleh para netizen di dunia maya.

Meme Lucu Sindir Sensor KPI Yang Dinilai Tidak Pada Tempatnya

Meme Lucu Sindir Sensor KPI Yang Dinilai Tidak Pada Tempatnya

(bimbim – harianindo.com)

x

Check Also

Kumpulan Meme Gadis Desa Yang Bikin Kamu Pingin Pulang Kampung

Kumpulan Meme Gadis Desa Yang Bikin Kamu Pingin Pulang Kampung

Jakarta – Banyak orang yang menganggap bahwa kecantikan asli seorang wanita akan terpancar ketika ia ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis