Surabaya – Mengingat praktik intoleransi di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan dan dapat memecah belah kebhinekaan Indonesia, lima orang pemuka agama yang mewakili agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha, berkumpul untuk melakukan doa bersama.

Intoleransi Semakin Marak, Lima Pemuka Agama Doa Bersama dengan Memegang Lilin

Acara yang digagas oleh Aan Anshori ini diadakan di Apartemen Trillium di Jalan Pemuda, Sabtu (19/12/2016) malam.
Kelima pemuka agama tersebut secara bergantian mengucapkan doanya menurut keyakinan masing-masing dalam suasana gelap dan hanya diterangi oleh nyala lilin di tangan masing-masing.

“Semoga kerukunan ini bisa mendamaikan Indonesia. Segala kemalangan, hal buruk, dan ancaman akan lenyap dengan lindungan yang maha kuasa. Tiada mara bahaya yang akan menghadang,” ucap Bhante Dharma Maitri Thera yang mewakili agama Budha dalam doanya.

I Wayan Suraba yang mewakili agama Hindu berdoa agar bangsa Indonesia selalu dilimpahi kedamaian.

“Semoga kita semua damai dan sejahtera selalu. Semoga seluruh anak bangsa damai selalu. Semoga damai di hati, damai di dunia dan damai selalu,” ucap Wayan Suraba yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia Kota Surabaya.

Sedangkan Pendeta Elia yang mewakili agama Kristen berdoa agar tidak ada lagi pengelompokkan-pengelompokkan, namun saling menghormati.

“Jangan ada lagi tekanan dan pemarjinalan terhadap mereka-mereka yang kecil,” kata Elia.

Lalu Pendeta Simon yang mewakili umat Katolik mengatakan bahwa dalam suasana Natal ini Yesus turun ke dunia untuk semua orang, bukan untuk salah satu kelompok saja.

“Karena Yesus datang untuk menyelamatkan dunia,” ucapnya dalam doanya.

Sementara Aan Anshori yang mewakili umat Islam berharap agar pemerintah lebih bisa bersikap tegas agar Pancasila tidak dirusak oleh pihak-pihak tertentu dengan bersikap tidak toleran.

“Kami prihatin sekaligus mengecam prakti intoleransi. Kami meminta agar Presiden Jokowi lebih tegas agar Pancasila tak dikoyak oleh praktik-praktik intoleransi,” kata Aan.
(samsul arifin – harianindo.com)