Jakarta – Belakangan ini, fenomena sikap intoleransi dinilai semakin di luar terkendali. Melihat hal tersebut, Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Syafii Maarif pun meminta kepada pemerintah untuk bersikap tegas atas fenomena tersebut.

Buya Syafii : "Muslim Yang Bukan Arab Percaya Semua Yang Dari Arab Itu Islam"

Buya Syafii

“Menyikapi masalah ini maka negara tegas akan sikap yang mengarah pada intoleransi ini,” kata pria yang karib disapa Buya itu di Sleman.

Menurut Syafii, fenomena sikap intolerensi tersebut sudah tergolong bisa mengancam kebhinekaan yang ada di Indonesia ke depannya. Pria yang akrab disapa Buya Syafii itu melanjutkan ada implementasi dan pemahaman yang salah tentang Islam.

“Pokok permasalahan ada pada implementasi sila kelima Pancasila. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia masih melayang-layang tinggi. Inilah yang menjadi celah paham radikalisme yang memicu sikap intoleransi. Ibaratnya rumput kering bagi munculnya fenomena-fenomena belakangan ini. Ditambah dengan sikap Arabisme yang salah jalan dan diimpor ke Indonesia,” katanya.

Salah satunya, mereka yang menganggap apapun yang berbau Arab adalah Islam. Ia menilai, cara pandang seperti itulah yang tengah tren di sejumlah golongan saat ini, kemudian menilai yang tidak sepemaham adalah insan dari golongan yang berbeda.

“Sikap-sikap seperti ini tidak dikenal dalam Islam. Bahkan dalam Alquran juga tidak ada pemaknaan seperti ini. Lalu muncul anggapan Syiah, Sunni, dan kelompok lainnya. Sikap seperti ini di Alquran tidak ada, tidak mengenal kelompok. Lalu orang muslim yang bukan Arab percaya semua yang dari Arab itu Islam, ini tidak tepat,” tegas Syafii, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (6/5/2017).

Ia menambahkan bahwa pengaruh dari ISIS dinilai telah masuk ke Indonesia. Meski tidak secara frontal, namun upaya dalam mengganggu kebhinnekaan Indonesia terasa kental. Syafii juga meminta pemerintah untuk kompak, mulai dari golongan tertinggi hingga pemerintah golongan bawah dalam menindak tegas hal tersebut.

“ISIS adalah manifestasi dari peradaban Arab yang sedang bangkrut. Parahnya pemahaman dan idiologi di dalamnya mendapat angin sejuk di Indonesia. Salah satu infiltrasi melalui sosial media sebagai perantara informasi. Peradaban yang sedang bangkrut dan kita terima dengan sikap tidak kritikal. Indonesia saat ini tergolong rentan, jadi memang harus tegas atas idiologi merusak ini,” ungkap dia.

Salah satunya seperti mengawasi dan membatasi gerak organisasi-organisasi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 dan masyarakat juga harus lebih kritis dalam berpikir. Lantas, mereka diminta untuk membentengi diri atas informasi dan ajakan intoleran, salah satunya dengan perbanyak membaca dan melakukan tabayun terkait dengan informasi yang beredar.

Baca Juga : Ditolak di Pontianak, FPI Akan Gelar Aksi Besar-besaran 20 Mei

“Saat ini banyak video tersebar isinya sudah tidak nalar hanya menghujat dan kebencian. Islam jadi korban, Alquran jadi korban oleh umat Islam yang mengaku paling Islami. Kita punya Pancasila dan UUD 1945, ini adalah nilai-nilai penting,” Syafii memungkas.

(bimbim – harianindo.com)