Home > Ragam Berita > Nasional > Inilah Yang Menjadi Faktor HTI Bisa Berkembang di Indonesia

Inilah Yang Menjadi Faktor HTI Bisa Berkembang di Indonesia

Jakarta – Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama (PBNU) dan Muhammadiyah mengadakan diskusi bersama bertemakan “Negara Pancasila dan Khilafah”. Dalam kesempatan tersebut, Sekjen Muhammadiyah Abdul Mu’ti menceritakan sejarah masuknya ormas Hizbut Tahrir ke Indonesia.

Inilah Yang Menjadi Faktor HTI Bisa Berkembang di Indonesia

HTI

“Kalau kita lihat Hizbut Tahrir itu memang sebuah gerakan transnasional dan masuk ke Indonesia sebagai konsekuensi dari globalisasi, yang memang menjadi bagian dari itu. Memang mengisyaratkan sebuah dunia yang semakin terbuka,” ujar Abdul di kantor PBNU Jalan Kramat Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Abdul melanjutkan, masuknya paham Hizbut Tahrir ke Indonesia sudah sejak 1980-an. Kala itu, kata Abdul, Indonesia mudah menerimanya untuk masuk. Terlebih mengingat Hizbut Tahrir merupakan bentukan Timur Tengah yang memang dikenal dekat dengan Indonesia.

“Kalau dalam konteks networking atau exchange Indonesia dengan Timur Tengah, maka bisa kita maklumi bagaimana Indonesia dan bangsa Timur Tengah dengan mudah masuk ke Indonesia, paling tidak dengan tiga alasan,” ujarnya.

Terdapat tiga faktor pendukung berkembangnya Hizbut Tahrir, menurut Abdul. Yang pertama, imur Tengah masih dianggap kiblat dari umat Islam di dunia. “Sehingga pemikiran dan gerakan yang berasal dari Timur Tengah hampir memiliki jejaringnya atau channel-nya di Indonesia,” tutur dia.

Bahkan, dirinya menambahkan, berdirinya NU dan Muhammadiyah juga tidak lepas dari para pendirinya usai menuntut ilmu di Arab Saudi.

“Kalau kita melihat inspirasi berdirinya Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan, inspirasi pendirian NU dan KH Hasyim Ashari tidak bisa dilepaskan dari pengalaman beliau menuntut ilmu di Arab Saudi dan ilmu yang beliau pelajari dari para ulama di Mekkah dan negara sekitarnya memberikan inspirasi yang cukup kuat untuk membangun dan mengembangkan Indonesia dengan pemikiran yang berasal dari para ulama di Timur Tengah,” paparnya.

Alasan yang kedua, masih kata Abdul, secara sejarah ada kedekatan yang sangat kuat antara Indonesia dengan negara-negara yang ada di Timur Tengah, seperti, Mesir, Arab Saudi dan Palestina.

“Kedekatan itu punya implikasi pada tingkatan yang bersifat emosional antara umat Islam Indonesia dan umat Islam yang ada di Timur Tengah,” ujar Abdul.

Sedangkan yang ketiga atau terakhir, Abdul mengatakan, begitu mudahnya generasi muda bergabung karena sedang mencari jati diri. “Karena proses itu, maka hal yang baru yang menurut mereka cocok, itulah yang mendapatkan tempat,” ungkapnya.

Sehingga, ujar Abdul, jika NU dan Muhammadiyah dianggap generasi muda sudah kusam, maka mereka pun menginginkan sesuatu yang baru.

Baca juga: Anies Dukung Langkah Tegas Jokowi Menindak Para Pelanggar Hukum

“Mereka ini kelompok yang punya keinginan baru. Islam ini enggak usah di sekat-sekat oleh Muhammadiyah atau NU. Islam ini adalah Islam saja, tidak usah pakai berlabel kemudian dikritik ketika kita beda hari raya,” jelasnya. (Yayan harianaindo.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Awal Ramadhan, PBNU Pantau Hilal di 90 Titik

Awal Ramadhan, PBNU Pantau Hilal di 90 Titik

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lajnah Falakiyah PBNU telah siap memantau hilal ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis