Home > Ragam Berita > Internasional > Piket Selama 33 Jam, Seorang Dokter Meninggal Dunia

Piket Selama 33 Jam, Seorang Dokter Meninggal Dunia

Kuala Lumpur – Seorang dokter di Malaysia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia setelah dirinya harus piket selama 33 jam di Rumah Sakit Universitas Sains Malaysia (HUSM).

Piket Selama 33 Jam, Seorang Dokter Meninggal Dunia

Dokter yang bernama Dr Nurul Huda ini mengalami kecelekaan dalam perjalanan pulang dari HUSM ke Kuala Terengganu untuk menemui suami dan tiga anaknya.

Dikutip dari sinarharian.com, Dr Nurul Huda disebutkan telah bertugas selama 33 jam, dari tanggal 8 hingga 9 Mei 2017, dan baru selesai “On Call” pada pukul 5 petang waktu setempat.

Menanggapi hal ini, petugas medis dan organisasi non-pemerintah (LSM) di Malaysia mengeluarkan pernyataan bersama agar pemerintah memberikan perhatian terkait kejadian tersebut karena hal ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi.

“Sebelumnya kami telah kehilangan rekan kerja, Dr Afifah Mohd Gazi. Jadi saatnya tindakan serius diambil untuk menghindari kehilangan nyawa lain menjadi taruhan,” bunyi pernyataan tersebut.

“Kita menyadari bahwa banyak faktor yang menyebabkan kecelakaan kendaraan bermotor. Diantaranya masalah kendaraan, kondisi jalan yang buruk dan gangguan lain. Namun, kita tidak bisa menolak fakta bahwa kelelahan atau kurang tidur juga adalah salah satu faktor yang diidentifikasi dan dapat dicegah,” kata pernyataan itu.

Mereka mendesak Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) agar mengkaji kembali kebijakan pembatasan waktu jam kerja bagi tenaga medis untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan di kalangan pekerja media.

Ada lima poin penting yang disampaikan oleh para pekerha medis dan LSM kepada KKM, yakni antara lain membentuk tim petugas khusus dari Departemen Kesehatan, Departemen Transportasi, universitas dan LSM medis untuk menyelidiki kejadian kecelakaan kendaraan bermotor (MVA) di kalangan pekerja medis dan hubungannya dengan waktu bekerja mereka serta membuat peraturan terkait ‘waktu bekerja aman’ guna melindungi pekerja medis, termasuk orang awam.

“Selain itu menumbuhkan kesadaran dalam bentuk kampanye dan keterlibatan aktif dengan pekerja medis dan langkah-langkah keamanan saat terjadi kelelahan dan kurang tidur, menyediakan fasilitas transportasi alternatif atau antar-jemput dari rumah sakit ke lokasi perumahan tertentu. Hal utama adalah menyediakan ‘post-call off’ atau hari-off wajib untuk pekerja medis shift atau dokter on-call,” katanya.
(samsul arifin – harianindo.com)

x

Check Also

Ketua RW Ini Merasa Pertemuan 5 Jam Dengan Sandiaga di Hotel Mewah Sia-sia

Ketua RW Ini Merasa Pertemuan 5 Jam Dengan Sandiaga di Hotel Mewah Sia-sia

Jakarta – Pada Selasa (21/11/2017) selasa siang WIB, puluhan Ketua RT/RW dan Lurah se-Jakarta Barat ...