Home > Ragam Berita > Nasional > Jonru Berani Bersumpah Tak Terlibat Kelompok Saracen

Jonru Berani Bersumpah Tak Terlibat Kelompok Saracen

Jakarta – Pemerintah saat ini tengah giat memerangi kelompok penyebar hoax, Saracen. Berdasarkan penyidikan aparat kepolisian, Saracen mempunyai 2000 akun media sosial yang kemudian berkembang menjadi 800.000 akun yang digunakan untuk menyebar konten kebencian.

Jonru Berani Bersumpah Tak Terlibat Kelompok Saracen

Jonru

Sindikat ini tidak terikat di satu kelompok, tetapi bergerak membuat konten sesuai selera pemesan, salah satunya kritik terhadap pemerintahan Joko Widodo.

Baca juga : Istana Tanggapi Debat Panas Jonru di Acara ILC

Analisis Kebijakan Madya Bidang Penmas Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Pudjo Sulistyo, mengatakan para pelaku mempunyai kecerdasan di atas rata-rata.

Di tengah isu tersebut, nama Jonru Ginting justru mencuat.

Hal itu setelah Jonru menolak menghadiri acara talkshow ILC yang membahas tema tersebut.

Namun tudingan tersebut dibantah Jonru.

Penggiat media sosial ini bahkan berani bersumpah atas nama Allah.

YA ALLAH….

JIKA SAYA MEMANG TERLIBAT SARACEN, TOLONG AZAB SAYA DENGAN SEPEDIH-PEDIHNYA.

DAN JIKA TERNYATA SAYA TIDAK TERLIBAT SARACEN, TOLONG BERIKAN AZAB YANG SEPEDIH-PEDIHNYA KEPADA MEREKA YANG MENUDUH SAYA TERLIBAT SARACEN.

TOLONG BAGI TEMAN-TEMAN YANG MASIH MENDUKUNG SAYA, AAMIINKAN DOA INI.

SAYA SANGAT SERIUS.

SAYA TAK AKAN BERANI BERSUMPAH SEPERTI INI JIKA SAYA MEMANG BERSALAH.

SAYA BERANI KARENA SAYA BENAR.

ALLAHU AKBAR !!!

Jonru mengaku berjuang atas nama Muslim Cyber Army.

Jonru justru menilai jika pihak yang selama ini menyerangnyalah yang patut dicurigai sebagai Saracen.

“Muslim Cyber Army BUKAN Saracen. Kubu merekalah yang paling rajin menebar kebencian, menebar hoax, sehingga merekalah yang paling layak untuk jadi saracen,” tulisnya.

Pudjo Sulistyo, mengatakan Ketua Saracen, Jasriadi dan tim dapat mengendalikan follower sehingga bekerja militan saat menyebarkan provokasi berbau SARA.

“Mereka dapat mengatur manajerial yang tidak bisa dijumpai, follower militan. Tentu itu orang cerdas. Tak gampang memelihara follower ratusan ribu,” tutur Pudjo, kepada wartawan, Sabtu (26/8/2017).

Para pengguna jasa disinyalir memanfaatkan jasa konten ujaran kebencian, Saracen untuk menyerang lawan politik.

Polri masih berupaya mengungkap sindikat itu termasuk melacak para pengorder jasa.

Sejauh ini, aparat kepolisian menemukan perihal isu-isu yang dipelintir grup Saracen mulai dari ekonomi hingga sosial.

Saracen memperdagangkan isu-isu terkait Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) untuk mendapatkan keutungan ekonomi. Para pelaku menyebarkan isu itu sesuai pesanan.

“Jadi, kalau masalah motif politik, itu tentu saja orang yang memesan. Para pelaku motif ekonomi, motif politik, motif ekonomi, motif sosial, macam-macam. Yang memesan ini tentu saja konten tentang hoax, tentang ekonomi ada, tentan sosial ada. Makanya motif-motif, sebelumnya adalah ekonomi, tetapi masalah pemesan ini berbagai motif,” kata Pudjo.

Aparat kepolisian sudah menangkap tiga orang terkait kasus ini di lokasi berbeda.

Muhammad Faizal Tanong (43) ditangkap di Koja, Jakarta Utara, pada 21 Juli 2017, Jasriadi (32) ditangkap di Pekanbaru, Riau, pada 7 Agustus 2017, dan Sri Rahayu Ningsih diamankan di Cianjur, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2017.

Sepak terjang sindikat tersebut sudah sejak lama diperhatikan oleh aparat kepolisian. Namun, pengungkapan itu memakan waktu lama.

Dari proses mapping itu, ada hubungan berbagai kelompok di berbagai kota menjadi satu kelompok besar yang bernama Saracen tersebut. (Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)

x

Check Also

Fahri Hamzah Buka-bukaan Lagi Soal Kondisi Internal PKS

Fahri Hamzah Buka-bukaan Lagi Soal Kondisi Internal PKS