Home > Ragam Berita > Nasional > Demi Mengaspal Jalan, Menteri PUPR Butuh Banyak Sampah Plastik

Demi Mengaspal Jalan, Menteri PUPR Butuh Banyak Sampah Plastik

Bekasi – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuldjono, mengatakan bahwa untuk menjangkau daerah dalam penggunaan sampah plastik sebagai bahan aspal jalan pihaknya akan menggandeng Menteri Perindustrian.

Demi Mengaspal Jalan, Menteri PUPR Butuh Banyak Sampah Plastik

Demi Mengaspal Jalan, Menteri PUPR Butuh Banyak Sampah Plastik

Tujuan untuk menggandeng Menteri Perindustrian bertujuan untuk mencari alat pencacah sampah plastik dengan kapasitas yang memadai. Hingga saat ini teknologi sudah dilakukan sebanyak dua kali ujicoba yakni di Bali dan Bekasi.

Basuki juga menekankan akan menggunakan bahan campuran denga n sampah plastik untuk pemeliharaan dan pembangunan jalan di daerah. Dengan begitu diharapkan bisa menekan penyerapan terhadap sampah plastik yang selama ini menumpuk.

Menurutnya ada sekitar 46.000 kilometer jalan di Indonesia yang membutuhkan pemeliharaan. Jika setiap 1 kilometer jalan dibutuhkan sekitar 3 ton sampah plastik, maka pemerintah dapat meminimalisir sampah, sekaligus memperbaiki jalan.

Baca juga : Mensos Target Indonesia Bebas Pasung Bakal Terealisasi pada 2019

“Kita puya kebutuhan jalan 46.000 kilometer pemeliharaan, ini kan dalam rangka pemeliharaan. 1 kilometer butuh 3 ton kresek. Bayangkan berapa banyak sampah yang akan diserap,” jelasnya.

Basuki menceritakan bahwa jalan campuran aspal dan plastk sudah diaplikasikan di jalan Universitas Udayana, Bali, sepanjang 700 meter pada bulan Juli lalu.

“Ini kan sudah di uji di Universitas Udayana dengan lintasan ringan, di Bekasi ini lebih berat. Makanya kita harus coba terus di seluruh wilayah,” terangnya.
(Muspri-harianindo.com)

x

Check Also

Panglima TNI Dilarang Masuk ke Amerika Serikat, Kok Bisa?

Panglima TNI Dilarang Masuk ke Amerika Serikat, Kok Bisa?

Jakarta – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tidak diperbolehkan masuk ke Amerika Serikat oleh US ...