Home > Gaya Hidup > Pura-Pura Sakit atau Malingering Bisa Disebabkan Karena Gangguan Kepribadian

Pura-Pura Sakit atau Malingering Bisa Disebabkan Karena Gangguan Kepribadian

Jakarta – Berpura-pura sakit biasanya ditemui pada orang yang ingin menghindar dari tanggung lebih yang ia dapatkan, ingin mendapatkan kompensasi finansial dari kondisi kesehatannya, atau ingin menghindar dari konsekuensi hukum.

Pura-Pura Sakit atau Malingering Bisa Disebabkan Karena Gangguan Kepribadian

Menurut dr Andri, SpKJ, FAPM yang sehari-hari bertugas di klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Serpong, Tangerang, berpura-pura sakit memiliki nama ilmiah ‘malingering’.

Dalam buku manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental atau DSM-5 edisi terakhir terbitan American Psychiatric Association menyebut, diberi kode ‘V’, yang berarti menjadi fokus perhatian klinis.

Malingering biasanya disebabkan karena kondisi eksternal, seperti menghindari tuntutan pidana, menghindari tugas militer atau pekerjaan, serta ingin mendapat kompensasi finansial.

“Jadi malingenring adalah perilaku yang disengaja untuk tujuan eksternal. Ini tidak dianggap sebagai gangguan jiwa atau psikopatologi meski bisa terjadi pada gangguan jiwa lainnya,” kata dr Andri.

Malingering sendiri harus dicurigai dengan dengan empat kombinasi, yakni masalah medikolegal (misal seorang pasien mencari kompensasi karena cidera), perbedaan yang ditandai antara tekanan yang diklaim dan temuan obyektif, kurangnya kerja sama selama evaluasi dan dalam mematuhi perlakuan yang ditentukan, serta adanya gangguan kepribadian antisosial.

Pasien dengan malingering seringkali dihubungkan dengan kondisi gangguan kepribadian antisosial dan ciri kepribadian histrionik.
Mereka biasanya mengalami kesulitan untuk menjaga konsistensi dengan klaim palsu dan berlebihan untuk waktu yang lama.

“Orang yang sedang berpura-pura biasanya tidak memiliki pengetahuan bagaimana harus bersikap dalam menjaga kelainan pura-pura sakit itu agar tampak benar-benar sakit,” ujar dr Andri.

Biasanya jika dilakukan wawancara berkepanjangan terhadap orang dengan malingering maka ia akan menjadi kesulitan untuk mempertahankan kebohongannya.

“Urutan pertanyaan yang cepat akan meningkatkan kemungkinan tanggapan yang kontradiktif dan tidak konsisten,” ujarnya.

Menurut dr Andri, untuk menghadapi orang macam ini dokter tidak perlu melakukan diagnosis medis.
(samsul arifin – harianindo.com)

x

Check Also

Anies Nyatakan Penderita Difteri Di Jakarta Terus Meningkat Setiap Tahunnya

Anies Nyatakan Penderita Difteri Di Jakarta Terus Meningkat Setiap Tahunnya

Jakarta – Jika anda mengalami batuk dan bersin yang tak kunjung reda sebaiknya anda segera ...