Home > Ragam Berita > Nasional > Kejanggalan Baru Muncul Dalam Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Kejanggalan Baru Muncul Dalam Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Jakarta – Hingga saat ini, penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan masih terus bergulir dan belum juga menunjukkan titik terang. Sebaliknya, kejanggalan demi kejanggalan semakin terendus dalam insiden yang terjadi (11/4/2017) silam tersebut.

Kejanggalan Baru Muncul Dalam Penyelidikan Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Salah satu kejanggalan yang muncul yakni terkait dengan pemeriksaan Novel di Singapura pada Agustus tahun lalu. Kejanggalan tersebut diungkapkan oleh komisioner Ombudsman RI (ORI) Adrianus Meliala.

“Hanya (dokumen) pemberian keterangan saja dari Novel (yang ada di kepolisian). Ada tanda tangan dan cap KBRI,” ujarnya, Sabtu (10/2/2018).

Faktor dari lambatnya penanganan teror terhadap penyidik KPK itu ditengarai dari dokumen yang tidak mirip berita acara pemeriksaan (BAP) tersebut. Menurut Adrianus, kepada Ombudsman, penyidik Polda Metro Jaya memang mengatakan bahwa Novel belum pernah di-BAP.

“Ini sesuai dengan perkataan penyidik (Polda Metro Jaya) bahwa Novel belum pernah di-BAP,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Adrianus pun memberikan saran agar dilakukan pemeriksaan ulang terhadap Novel yang kini tengah menjalani perawatan mata di Singapura. Polisi juga diminta untuk lebih mendalami keterangan yang diungkapkan Novel dengan sebenar-benarnya.

“Keterangan Novel bisa didalami di bawah sumpah, bukan karena katanya si A, katanya si B,” ucapnya.

Terkait hal itu, Novel sendiri mengaku sudah pernah di BAP oleh pihak penyidik Polda Metro Jaya di Singapura. Ia juga mengakui bahwa pemeriksaan tersebut dilakukan di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) Singapura yang terletak di Jalan Chatsworth 7.

“Tidak benar juga bahwa saya pernah menandatangani suatu tulisan dengan format seperti BAP dan diberi cap KBRI. Itu aneh lagi,” ungkap suami Rina Emilda itu.

Novel melanjutkan bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Penyidik di Singapura tersebut turut disaksikan oleh pegawai dan pimpinan KPK. Karena itu, dia meminta Ombudsman untuk menanyakan secara kelembagaan kepada KPK terkait dengan temuan dokumen kepolisian tersebut.

“Untuk lebih jelas bisa ditanyakan ke KPK, karena setiap proses saya selalu didampingi dari KPK,” tegasnya.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)

x

Check Also

Sekjen Gerindra Jelaskan Partainya Keterbatasan Dana Soal Logistik Pilpres 2019

Sekjen Gerindra Jelaskan Partainya Keterbatasan Dana Soal Logistik Pilpres 2019

Jakarta – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memulai penggalangan dana publik untuk kebutuhan politiknya ...