Home > Ragam Berita > Nasional > Larangan Valentine, Tapi Cokelat Tetap Laris Manis

Larangan Valentine, Tapi Cokelat Tetap Laris Manis

Gresik – Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Dispendik) dan Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Gresik telah mengeluarkan larangan tentang perayaan Valentine’s day (hari kasih sayang). Namun, sepertinya masyarakat tetap antusias dalam menyambut perayaan tersebut.

Larangan Valentine, Tapi Cokelat Tetap Laris Manis

Hal itu terbukti, para produsen coklat yang ada di Kabupaten Gresik mengungkapkan jika pemesanan produknya meningkat hingga 40 persen jelang perayaan valentine’s day yang jatuh tepat pada 14 Februari.

“Ternyata masih banyak peminat dalam merayakan valentine day, dan puncak pengiriman memang jatuh pada13 dan 14 Februari,” terang Rima Lachida, salah satu produsen coklat di Giri.

Menurut Rima, para konsumennya didominasi oleh kaum pelajar. Ia juga mengaku jika orderannya memang meningkat saat mendekati Valentine. Bahkan, ada yang telah melakukan daftar pemesanan sejak satu bulan sebelumnya. Biasanya ia bisa memproduksi coklat ukuran sedang dengan jumlah rata-rata 15 model.

“Ia memang konsumen paling banyak berasal dari kalangan pelajar,” kata dia.

“Tapi semenjak Januari, setiap minggu bisa memproduksi rata-rata 50 model coklat custome,” sebut pemilik Coklat Ritama ini.

Meski laris manis, namun dia mengaku tak merubah harga dari per unit coklat. Hanya saja, ia terpaksa meminta pelanggan lebih awal dalam memesan coklat untuk mendapatkan produk sesuai waktu yang diinginkan.

Bahkan, dirinya harus menambah pegawai guna menyeimbangkan orderan yang masuk. Bentuk coklat yang dipesan oleh konsumen juga semakin bervariasi. Sebagian besar, konsumen memilih kalimat panjang yang dirangkai dari coklat, sehingga bisa menjadi ungkapan tersendiri. Bahkan ada varian rasa seperti coklat pedas dan rasa kopi.

“Hampir 30 persen konsumen, memilih dikirim tepat pada hari valentine,” sebutnya.

“Jadi memang moment ini menjadi produksi besar, untuk cokelat handmade,” ungkapnya.

Di lain tempat, Anisa Jihan, yang turut memproduksi coklat mini untuk keperluan souvenir dan hadiah pun juga mengalami hal yang sama. Dirinya juga mengalami lonjakan pesanan hingga 30 persen. Uniknya, ia banyak mendapat pesanan coklat dari konsumen yang berasal dari Gresik.

“Meski begitu, banyak juga konsumen yang berasal dari luar daerag, seperti Sidoarjo dan Lamongan,” sebutnya.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)

x

Check Also

Polda Metro Jaya Akan Mengkaji Pelaporan Terhadap Anies Baswedan

Polda Metro Jaya Akan Mengkaji Pelaporan Terhadap Anies Baswedan

Jakarta – Setelah munculnya beberapa pihak yang berkomentar mengenai pelaporan Anies Baswedan, kali ini Kabid ...