Home > Ragam Berita > Internasional > Dukung Aksi Militer AS Ke Syiria, Presiden Perancis Kebanjiran Pujian

Dukung Aksi Militer AS Ke Syiria, Presiden Perancis Kebanjiran Pujian

Jakarta – Baru-baru ini, aksi militer yang digencarkan oleh Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis di Syria mulai memberikan dampak bagi Perdana Menteri (PM) Theresa May dan Presiden Emmanuel Macron.

Dukung Aksi Militer AS Ke Syiria, Presiden Perancis Panen Pujian

Pasalnya, pada senin (16/4/2018) kemarin, May diminta untuk mempertanggungjawabkan keputusannya di hadapan majelis rendah parlemen. Di sisi lain, citra Macron justru semakin positif pasca serangan rudal tersebut.

“Inggris membutuhkan War Powers Act baru yang mengharuskan pemerintah mempertanggungjawabkan seluruh keputusannya terkait dengan pertempuran kepada parlemen,” kata Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn sebagaimana dilansir BBC kemarin, Senin (16/4/2018).

Menurut dia, keputusan yang dibuat oleh May tersebut telah mendatangkan masalah besar. Pasalnya, perempuan pemimpin tersebut seenaknya memutuskan untuk mendukung aksi militer AS di Syria.

“Padahal, dia bisa dengan mudah memanggil para legislator yang sedang reses untuk merundingkan rencana tersebut. Atau, dia bisa menunda keputusan tersebut sampai masa reses Paskah para legislator berakhir,” gerutu Corbyn.

Sebagai seorang PM, seharusnya May mendapatkan restu terlebih dahulu oleh parlemen sebelum mengambil keputusan besar yang berdampak serius bagi pemerintahannya tersebut. Namun, akhir pekan lalu, dia tak melakukannya.

Selain Partai Buruh, dua partai juga mengecam May. Yakni Scottish National Party alias SNP dan Liberal Democrat Party. Jika May panen akan kecaman, Macron justru sebaliknya. Terlibat dalam aksi militer menarget tiga fasilitas senjata kimia Syria membuat suami Brigitte tersebut semakin populer.

“Macron mencitrakan dirinya sebagai man of action.Dia berani melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh para pendahulunya. Dan, dia berhasil,” kata Francois Miquet-Marty, kepala lembaga poling Viavoice, kepada The Guardian.

Macron pernah menyebut serangan kimia sebagai garis merah. Maka, ketika OPCW merilis laporan bahwa Syria memiliki senjata kimia dan menggunakannya dalam beberapa serangan udara, presiden 40 tahun tersebut berang.

Ketika itu, dia mengaku siap melancarkan serangan militer ke republik yang tujuh tahun terakhir dicabik perang tersebut. Dan, ancaman tersebut terlaksana pada pekan lalu.

“Saat Anda sudah menetapkan garis merah dan tidak tahu bagaimana cara membuat garis merah itu dihargai, itu artinya Anda lemah. Dan, itu bukan pilihan saya,” tegas Macron tentang keputusannya.

Oleh sebab itulah, ketika Prancis ikut meluncurkan rudal ke tiga titik sasaran di Syria, tokoh yang baru setahun duduk di kursi presiden tersebut terlihat kalem memantau misi tempur perdananya itu dari Elysee Palace.

Kemarin beredar pula wawancara Macron dengan stasiun televisi Prancis terkait dengan kebijakannya dalam mendukung aksi militer AS tersebut.

“Sepuluh hari lalu, Presiden Trump mengatakan bahwa AS akan menarik pasukan dari Syria. Tapi, kami berhasil meyakinkannya untuk bertahan di sana,’’ ujarnya sebagaimana dikutip Reuters. Karena itulah, saat AS melancarkan serangan udara, Prancis langsung mendukung.

(Tita Yanuantari – harianindo.com)

x

Check Also

ANC Kecam Aksi Kebrutal Israel di Perbatasan Gaza

ANC Kecam Aksi Kebrutal Israel di Perbatasan Gaza

Cape Town – Partai berkuasa di Afrika Selatan, Kongres Nasional Afrika (ANC), mengatakan, aksi kebrutalan ...