Home > Ragam Berita > Nasional > Pakar Politik Menilai Duet Jokowi-Prabowo Berpotensi Merusak Demokrasi

Pakar Politik Menilai Duet Jokowi-Prabowo Berpotensi Merusak Demokrasi

Jakarta – Beberapa waktu belakangan ini ramai diperbincangkan tentang wacana duet Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto menjadi sepasang Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Pakar Politik Menilai Duet Jokowi-Prabowo Berpotensi Merusak Demokrasi

Pakar Politik Menilai Duet Jokowi-Prabowo Berpotensi Merusak Demokrasi

Wacana penggabungan kedua tokoh tersebut dengan harapan dapat mengakhiri ‘perseteruan’ diantara masyarakat sehingga dapat mengakhiri ‘perang saudara’ sekaligus juga dapat mempererat persatuan Bangsa RI.

Sayangnya pakar komunikasi politik, Effendi Gazali, memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, duet Jokowi-Prabowo malah akan berdampak negatif bagi perkembangan demokrasi di Tanah Air jika wacana tersebut benar-benar teralisasi.

“Dalam demokrasi pasti tidak menguntungkan, karena seakan-akan (kandidat) habis atau tidak ada lagi (pilihan lain),” kata Effendi dalam acara diskusi di Media Center DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (19/04/2018).

Effendi menjelaskan bahwa dengan adanya putusan seperti itu, maka duet Jokowi-Prabowo pun tak akan memiliki lawan tanding lagi.

Baca juga : Anis Matta Ingin Maju di Pilpres 2019 Bersama Prabowo

“Jadi tinggal lawan kotak kosong atau tidak ada poros ketiga,” jelasnya.

Kemudian Effendi mengungkapkan hasil pengamatannya bahwa upaya untuk mewujudkan duet dua poros berbeda itu hingga kini masih terus dilakukan. Apabila nantinya wacana tersebut akhirnya benar-bnar terwujud sebagai realitas politik, maka masyarakat dapat menerimanya bila efek yang diberikannya juga baik.

“Bisa jadi (paslon tunggal), kan lagi dicoba terus sampai saat ini. Kalaupun misalnya terjadi harus diterima dalam realitas politik,” bebernya.

Akan tetapi di sisi lainnya, agar tidak terjadi fenomena ‘lawan kotak kosong’, ia berharap masyarakat dan kalangan elite politik terbebani oleh tugas baru. Tugas baru yang dimaksud adalah membentuk satu pasangan lain agar bisa menjadi lawan tanding bagi Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019.

“Cuma, nanti setelah itu ada tugas baru, yaitu membentuk satu pasangan lagi supaya jangan calon tunggal. Kurang lebih seperti itu,” tutupnya.
(Muspri-harianindo.com)

x

Check Also

HNW Berharap Demokrat Tak Menolak Kader PKS Sebagai Cawapres Prabowo

HNW Berharap Demokrat Tak Menolak Kader PKS Sebagai Cawapres Prabowo

Jakarta – Munculnya kemungkinan Partai Demokrat untuk bergabung bersama poros Prabowo Subianto, mendapat perhatian khusus ...