Jakarta – Adanya dugaan persekusi dan intimidasi terhadap ibu dan anak yang terjadi saat berlangsungnya acara Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (29/04/2018), menuai keprihatinan dari berbagai pihak.

Ormas dan Aktivis Suarakan Kecaman Untuk Aksi Intimidasi di CFD

Ormas dan Aktivis Suarakan Kecaman Untuk Aksi Intimidasi di CFD

Peristiwa itu akhirnya mengundang sejumlah organisasi masyarakat (ormas), komunitas, dan aktivis untuk mendeklarasikan gerakan #AksiNyataUntukIndonesia. Mereka yang tergabung dalam aksi ini adalah Front Pemuda Islam Indonesia (FPII), Forum Aktivis Jakarta (Fajar), serta sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda kedaerahan.

“Sekelompok orang dengan kaus #GantiPresiden2019 dalam kegiatan tersebut melakukan diskriminasi, intimidasi, dan persekusi terhadap kelompok yang berseberangan pendapat,” kata juru bicara #AksiNyataUntukIndonesia M. Adnan seperti yang dilansir dari Jawapos, Jumat (04/05/2018).

Adnan mengatakan bahwa pihaknya sangat mengecam tindakan oknum yang melakukan diskriminasi dan intimidasi dalam CFD itu. Oleh karena itu, Adnan mengajak masyarakat untuk menciptakan demokrasi yang bermartabat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Baca juga : Diduga Pelaku Intimidasi Terhadap Susi Ferawati Lebih Dari 5 Orang

“Kami juga mengajak masyarakat untuk saling menghargai hak asasi dan perbedaan pandangan dengan tidak mendiskriminasi atau menyudutkan kelompok maupun golongan mana pun,” jelasnya.

Selain itu, Adnan juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan refleksi guna mengembalikan nilai-nilai luhur dan budaya bangsa sesuai dengan Pancasila.

Adnan menambahkan bahwa gerakan #AksiNyataUntukIndonesia ini juga sudah didukung oleh banyak tokoh. Misalnya dukungan dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie, peneliti CSIS J Kristiadi, mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH, dan anggota DPR RI Marlina Irwanti.

“Sampai saat ini sudah lebih dari 200 komunitas, ormas dan perorangan yang memberikan dukungan. Tentu saja ini hal yang baik bahwa intimidasi dan persekusi karena perbedaan pandangan dalam politik adalah keprihatinan bersama yang harus dilawan bersama-sama,” pungkasnya.
(Muspri-harianindo.com)