Jakarta – Dengan melihat dari kasus keluarga teroris Dita Oepriarto, bisa ditemukan pola baru dimana interaksi teroris sudah jauh berubah. Dari yang tertutup, mereka kini sudah berbaur di masyarakat untuk mengaburkan stigma, menghilangkan kecurigaan sekitar.

Pengamat Menilai Teroris Kini Tak Lagi Hidup Tertutup

Ridlwan Habi selaku pengamat terorisme memiliki penilaian bahwa “Mereka menyapa tetangga, berbagi belimbing wuluh, anaknya main di luar. Ini mengubah stigma penyidik Densus 88, yang selalu mengamati perubahan pelaku teror,”

Seperti yang telah diketahui, Dita yang merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya yang telah melakukan aksinya dengan sistematis. Mereka memperhitungkan jarak dan waktu dari rumahnya untuk meledakkan bom di tiga gereja kala itu.

“Sel Dita serius merencanakan serangan, bukan spontan,” sebut Ridlwan.

“Ini jelas operasi istihadah, operasi cari mati karena aparat sudah siaga satu dan tetap melakukan itu,” imbuhnya.

“Jadi, ada gejala solidaritas pendukung ISIS di Indonesia. Kelompok ini mati satu tumbuh seribu, dibunuh satu balas dendam yang lain,” tambahnya.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)