Jakarta – Desakan yang dilakukan Tifatul Sembiring kepada Prabowo untuk segera memutuskan pasangan sesuai dengan rekomendasi Ijtima Ulama kali ini dikomentari Gerindra langkah yang kurang tepat. Riza Patria menuturkan bahwa Ijtima Ulama adalah rekomendasi yang tidak memaksa.

Gerindra : "Ulama Ini Memberi Komunikasi, Bukan Memaksakan"

Saat ditemui kemarin Sabtu, Riza menuturkan bahwa “Nanti itu dikomunikasikan. Ulama ini memberi komunikasi bukan memaksakan. Ulama paham betul bahwa ini rekomendasi nanti akan kita diskusikan nanti partai yang berkoalisi pasti akan mendiskusikan dengan para ulama kalau yang diputuskan nanti bukan dari rekomendasi ulama. Kalau ya, tapi kalau memutuskan sesuai rekomendasi juga tentu itu harapan ulama,”

Mengenai hal ini, dirinya memastikan bahwa Gerindra dan partai pendukung akan memperhatikan rekomendasi Ijtima Ulama. Munculnya nama Salim Segaf dan UAS diapresiasi juga oleh Riza. Namun Gerindra juga memperimbangkan nama lain, termasuk kader Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“UAS sosok ulama muda yang cerdas, yang luar biasa banyak konstituen, banyak pengikutnya. Saya kira Ijtimak Ulama jadi perhatian kita termasuk UAS menjadi perhatian yang terus kita diskusikan di samping nama-nama lain. Ada Salim Segaf, UAS, ada Zulhas (Ketum PAN Zulkifli Hasan) dari PAN, ada AHY dari Demokrat. Kemudian, di luar itu ada Anies semua kita perhatikan dan bisa saja nanti ke depan muncul nama baru dalam politik itu semua sangat cair sangat dinamis,” ujarnya.

“Pak Jokowi yang incumbent sampai sekarang belum berani mengumumkan cawapres. Seharusnya sudah siap nggak perlu ragu. Nggak perlu intip-intip. Nggak perlu nunggu-nunggu ya karena incumbent saja belum. Kalau kami sesuai mekanisme dan aturan. Kami mantapkan dulu capresnya, kami mantapkan,” ucap Riza.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)