Home > Ragam Berita > Nasional > Kalapas Sukamiskin Beri Tanggapan Seputar Kamar Mewah Setya Novanto

Kalapas Sukamiskin Beri Tanggapan Seputar Kamar Mewah Setya Novanto

Jakarta – Temuan Ombudsman RI tentang kamar mewah yang digunakan oleh narapidana Setya Novanto, dinilai bukan kesalahan dia. Penilaian tersebut datang dari Kepala Lembaga Pemasyarakatan atau Kalapas Klas 1 Sukamiskin, Jawa Barat, Tejo Herwanto. Tejo menilai kondisi itu sepenuhnya merupakan permasalahan yang belum tuntas di masa kepemimpinan Wahid Husen, kalapas sebelumnya.

Kalapas Sukamiskin Beri Tanggapan Seputar Kamar Mewah Setya Novanto

Diketahui, Wahid Husen memang telah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam kasus dugaan suap penyediaan fasilitas mewah, pada Sabtu (21/7/2018) dini hari. Dengan perubahan total pejabat di Sukamiskin, menurut Tejo, pihaknya tidak memiliki rujukan dalam pembenahan internal Lapas.

“Hasil OTT, dampaknya struktural, semuanya dicopot. Kami dipilih dan dilantik oleh Menkumham dengan 16 struktural yang baru. Dengan situasi kondisi setelah OTT, kami tidak memiliki suatu profiling tentang assesment petugas staf maupun warga binaan lapas Sukamiskin,” ujar Tejo di Lapas Sukamiskin Bandung, Minggu, 16 September 2018.

“Saya ini seperti buta meraba-raba, skala prioritas yang mana dulu. Skala prioritasnya ternyata kita harus mengubah mindset pemikiran petugas pemasyarakatan,” katanya.

Ketika dirinya awal menjabat sebagai Kalapas pada (30/8/2018) silam, Tejo menyatakan, jajaran petugas Lapas Sukamiskin mengalami dampak psikologis. Menurut Tejo, Ombudsman RI seharusnya tidak menyidak soal kamar saja, melainkan progres pembenahan yang telah dilakukan agar berimbang. Namun, Tejo menyatakan legowo jika ada konsekuensi dari tingkat pusat.

“Karena OTT ini menjadikan satu pimpinan manajemen (terjaring), berdampak psikologis kepada seluruh staf yang ada,” ujarnya.

“Pertama kami mitra mereka, mengawasi kami. Tapi kok jangan nilai hanya itu, coba nilai kunjungan bayar apa enggak, pembinaan yang diberikan apa aja, terus yang sakit bayar enggak, kalau berobat itu prosesnya cepar apa lambat, kan gitu. Kalau cuma fisik saja, enggak bagus,” katanya.

Sebelumnya, Ombudsman RI melakukan inspeksi mendadak ke Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Hasil sidak tersebut, Ombudsman menemukan dugaan mal administrasi. Dugaan mal administrasi ini, berkaitan dengan ukuran kamar hunian antara satu kamar dengan kamar lainnya.

Anggota Ombudsman RI Ninik Rahayu mengatakan, salah satu tempat yang terindikasi, yakni di Lapas Sukamiskin. Ninik mendapati kamar mantan ketua DPR Setya Novanto lebih besar dibanding kamar lainnya.

“Ada yang lebih kecil dibanding kamar hunian tertentu mulai dari luas fasilitas. Yang lebih luas dihuni Pak Setya Novanto memang lebuh luas. Kalau ditanya ukuran bingung, pokoknya dua kali lipat,” ujar Ninik kepada awak media di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) Jabar, Jalan Jakarta, Kota Bandung, Jumat, (14/9/2018).

(Tita Yanuantari – harianindo.com)

x

Check Also

Anies : "Insyaallah Apa Yang Terjadi di Jakarta Akan Berulang di Level Nasional"

GNR Laporkan Anies Ke Bawaslu Usai Acungkan Salam 2 Jari

Jakarta – Kali ini sorotan dari relawan pendukung Jokowi-Ma’ruf mengarah kepada kehadiran Gubernur DKI Jakarta ...


Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/harianindo/public/wp-content/plugins/mashshare-sharebar/includes/template-functions.php on line 135