Jakarta – Berniat maju sebagai Caleg untuk DPRD Kota Malang membuat hidup Dwi Hariyadi menjadi berbeda. Pria yang memiliki pekerjaan sebagai tukang sampah ini harus menjalani beberapa langkah birokrasi yang belum pernah ia lalui sebelumnya.

Demi Bisa Nyaleg, Tukang Sampah Ini Rela Ngutang

Dirinya kemudian bercerita perihal langkah kampanyenya yang ia klaim tak menghabiskan dana sebanyak caleg lainnya.

“Saya buat APK sendiri ukuran agak besar habis sekitar Rp 300 ribu, kemudian ditambah bantuan dari teman-teman dan warga membengkak sampai Rp 600 ribu. Sampai sekarang kalau saya total sudah keluar uang Rp 1,7 juta,” kata pria berusia 46 tahun itu.

Sekedar informasi, sejak mendaftar hingga ditetapkan sebagai caleg nomor urut 9 DPRD Kota Malang untuk Dapil Kedungkandang, ia mendapat cerita jika kebutuhan modal seorang caleg Rp 500 juta sampai Rp 700 juta. Dwi kaget karena sepanjang hidupnya tak pernah melihat uang sebanyak itu. Apalagi memilikinya. Namun dengan berbekal keyakinan, ia mencoba terus melanjutkan cita-citanya.

“Saya cari bambu sendiri, semuanya saya usahakan tidak beli, karena modal juga tidak ada. Tali saja, pakai karet ban. Karena harus menghargai orang telah membantu, membuatkan APK untuk saya,” tambahnya.

Dirinya menilai bahwa perjalanan menjadi seorang caleg akan terus ia ingat. Terutama pada bagian di mana ia harus melengkapi berkas persyaratan. Waktu itu, Dwi hanya memiliki waktu beberapa hari karena sebagai caleg pengganti.

“Ketika ke loket, biaya urus ternyata Rp 210 ribu. Saya langsung bingung, kemana cari kurangnya. Padahal sudah pukul 10.30, tiga puluh menit lagi tutup pelayanannya,” cerita alumni IKIP Budi Utomo ini.

Dwi langsung bergegas mencari pinjaman dengan mendatangi kerabatnya yang tinggal tidak jauh dari lokasi rumah sakit. Di sana Dwi tak menemukan apa yang diharapkan. Sampai kemudian terbersit untuk mendatangi tetangganya yang menjadi pegawai di kepolisian.

“Saya datangi, karena kemana-mana tak ada yang punya uang. Bersyukur, kemudian bisa mendapatkan pinjaman dari tetangga yang kerja di Polsek Sukun, dan bisa urus keterangan sehat rohani,” tuturnya.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)