Wifi memiliki peranan yang sangat penting terhadap kehidupan manusia saat ini sehingga muncullah ungkapan bahwa ‘internet adalah jendela dunia’.

Internet memiliki banyka sekali keunggulan salah satunya dari sisi kecepatan, sehingga masyarakat modern mengandalkannya untuk mendapatkan penjelasan tentang berbagai hal, berselancar di media sosial, bahkan berbelanja melalui gadget.
Untuk mengakses itu semua, mereka perlu peralatan elektronik untuk bertukar data secara nirkabel, dan menggunakan WiFi-lah jawabannya – selain paket data dari provider jaringan.

Gadget canggih dan WiFi gratis menjadi primadona bagi generasi saat ini.

Oleh karena itu, bnayak sekali saat ini tempat-tempat yang menawarkan akses WiFi gratis untuk membuat nyaman pengunjung. mulai dari restoran, bandara, transportasi publik, perkantoran, hingga kafe-kafe memasang wifi demi kenyamanan para pengunjung.

Akan tetapi, dibalik wifi gratis da banyak begitu potensi yang berbahaya. Meski isu keamanan tentang WiFi bukan barang baru, perusahaan keamanan siber ESET memaparkan sejumlah data penelitian tentang bahaya WiFi publik.

Dalam keterangan pers, Senin, 17 Juni 2019, ESET menjelaskan salah satu bahaya dari wifi publik adalah serangan Man in the Middle (MitM), di mana seorang peretas mencegat komunikasi antara dua pihak, kemudian mencuri informasi pribadi korban yang dapat disalahgunakan peretas untuk keuntungan mereka.

Persoalan MitM itu kemudian berhubungan dengan informasi pribadi yang disimpan oleh pengguna di ponsel. Masih bersumber dari ESET, pihaknya menmukan bahwa di wilayah Asia Pasifik bahwa 32 persen konsumennya menyimpan informasi mereka pada jejaring internet. Jika peretas berhasil menyusup melalui WiFi publik, potensi pencurian dan penyelahgunaan data sangat besar.

Memang,angka 32 persen tdiak teralu tinggi, namun seharusnya angka tersebut dpaat diturunkan lagi.

Perlu dicatat juga, kecuali Thailand, semua negara dalam survei ESET itu adalah negara yang menggunakan ponsel untuk transaksi online sebesar 61 persen.

Ini adalah alasan yang perlu diperhatikan, mengingat banyka ponsel yang belum dilengkapi dengan keamanan cyber dan dikung dengan ketersediaan WiFi gratis.

Risiko bahaya di balik WiFi gratis juga dipaparkan laman Inc pada 2 Agustus 2018. Dijelaskan bahwa bisa saja penyerang siber sengaja meluncurkan WiFi gratis dengan tujuan sengaja untuk mencuri data pribadi atau data berharga lainnya.


Dalam artikel berjudul ‘Warning: These 7 Public Wi-Fi Risks Could Endanger Your Business’ itu juga memperingatkan akses WiFi gratis yang disusupi malware atau disadap oleh pihak ketiga tidak hanya mencuri data pribadi seseorang saja, namun para pelaku bisnis sehingga rentan menimbulkan kerugian pada bisnis mereka.
Selain itu, pencurian kata sandi dan nama pengguna juga bisa terjadi. (Hari-harianindo.com)