Yogyakarta – Meski dipuji oleh para pemerhati hak hewan, keputusan Bupati Karanganyar yang akan menutup semua warung olahan daging anjing ditentang oleh para penjual. Menurut mereka, keputusan tersebut tidak memiliki asas hukum yang kuat. Salah satu penjual juga mengklaim tidak ada pihak yang dirugikan dari usahanya.

“Kalau saya jualan kan sebenarnya tidak mengganggu siapapun. Yang mau makan silakan, yang tidak mau ya silakan,” kata penjual yang memilih untuk anonim pada Rabu (19/06/2019).

Justru, usaha miliknya merupakan sumber mata pencaharian bagi beberapa orang. Warung Sate Guguk miliknya mempekerjakan 10 orang. Ia merasa tidak menipu masyarakat karena secara terang-terangan sudah memasang nama ‘sate guguk’.

“Apalagi kami terang-terangan memasang nama sate guguk (anjing), kan tidak menipu. Justru kalau nanti dilarang, mungkin akan muncul pedagang yang sembunyi-sembunyi,” ujarnya.

Baca Juga: Tutup Warung Daging Guguk, Bupati Karanganyar Selamatkan Ribuan Anjing dari Pejagalan

Pedagang sate anjing tersebut membandingkan dengan Solo yang masih belum menutup warung-warung daging anjing karena tidak memiliki perda terkait.

Sementara itu, Pemkab Karanganyar nantinya akan memanggil para penjual kuliner daging anjing ke kantor kabupaten besok. Panggilan tersebut dilakukan dalam rangka mencari solusi terbaik bagi semua pihak.

“Besok Pak Bupati ingin bertemu dengan para pedagang. Nanti akan membahas soal komitmen beliau secara lintas sektoral. Tentu nanti akan tidak serta merta melarang, pasti dicarikan solusi terbaik,” kata Plt Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Karanganyar, Siti Maysaroh. (Elhas-harianindo.com)