Jakarta – Dunia kini menghadapi kegawatan perihal kesehatan mental. Hampir 300 juta penduduk dunia merupakan pengidap depresi. Angka ini tiap tahun selalu meningkat. World Health Organization (WHO) pun mengungkapkan fakta bahwa setiap 40 detik, para pengidap depresi melakukan bunuh diri.

Di Indonesia saja, terhitung sebanyak 15,6 juta penduduknya menderita depresi. Parahnya, dari sekian banyaknya korban depresi, hanya 8 persen yang mendapat penanganan khusus dari ahli. Temuan tersebut dipaparkan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Eka Viora, SpKJ.

“Banyaknya stigma yang beredar terhadap depresi menghalangi para penderitanya mendapatkan dukungan yang tepat,” paparnya pada acara Press Conference Lunbeck Regional Symposium, Jakarta Pusat, Sabtu (22/06/2019).

Baca Juga: Pakar Ungkap Seberapa Jahat Bakteri yang Ada di Sepatu Kita

Stigma-stigma negatif tersebut yang menjadi alasan mengapa para pengidap depresi masih enggan dalam mencari bantuan profesional. Pandangan masyarakat bahwa gangguan mental seringkali diasosiasikan dengan ketidakwarasan membuat orang-orang menjadi takut dan malu untuk mendatangi psikiater.

Padahal, jika tidak ditangani, para penderita depresi dalam benak mereka akan tumbuh pikiran untuk mengakhiri hidup. Pikiran tersebut akan semakin kuat jika dibiarkan begitu saja. Bahkan bisa berujung pada bunuh diri.

“Depresi bisa pulih sepenuhnya dan kami harap agar penderitanya tidak ragu dalam mencari dukungan dan pengobatan yang terbaik,” ungkap Eka. (Elhas-harianindo.com)