Wshington DC- Facebook tidak menerima perintah untuk membubarkan diri sebagai jaringan sosial media akibat banyaknya tudingan perihal masalah privasi, upaya untuk mempengaruhi pemilihan umum hingga konten berbahaya.

“Hanya karena sulit untuk mengatur internet, bukan berarti pembuat kebijakan mengambil alternatif untuk membubarkan diri,” kata Kepala Urusan Global Facebook Nick Clegg dalam sebuah pidato di Berlin, Jerman yang dikutip Reuters.

“Internet memang membutuhkan persaingan dan memang perlu regulasi, kami ingin bekerja dengan pemerintah dan pembuat kebijakan untuk merancang semacam regulasi cerdas yang mendorong persaingan, inovasi dan perlindungan konsumen,” lanjut dia.

Pernyataan Clegg itu disebabkan oleh ulah dari tujuh orang anggota Senat Partai Demokrat AS meminta Presiden Donald Trump untuk mengangkat ke permukaan rincian investigasi anti-monopoli Komisi Perdagangan Federal dan Departemen Kehakiman kepada Amazon, Facebook, Alphabet, dan Apple minggu lalu.

Tak sebatas hanya itu, Mantan Wakil Perdana Menteri Inggris pun sampai diminta untuk turun tangan dalam menangani reaksi global terhadap Facebook terkait kesalahan penanganan data pengguna dan tudingan membolehkan Rusia ikut campur dalam pemilihan Presiden AS tahun 2016.

Kekhawatiran pun meningkat saat Facebook memperkenalkan anak perusahaannya yakni Calibra yang membawahi dompet digital atau uang kripto Libra. Pasalnya, pembuat kebijakan keuangan di seluruh dunia meningkatkan tensi kekhawatiran terhadap Libra.

Komite Perbankan Senat Amerika Serikat memohon kepada perusahan untuk merincikan perihal masalah data privasi. Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire pun mengklaim bahwa kehadiran Calibra membuat regulator G7 semakin waspada untuk mengatur pra raksasa internet.

Namun Facebook mengklaim bahwa Calibra dikendalikan oleh pemerintah AS dan mengklaim tidak akan menggunakan data Libra untuk iklan bertarget.

Selain itu Clegg memaparkan dalam pidatonya, dibanding meminta Facebook untuk membubarkan diri, dia lebih setuju untuk mengubah kebijakan guna menentukan masa depan internet seperti yang sudah direalisasikan oleh China dan Rusia. (Hari-harianindo.com)