Magelang – Peternak ayam potong di Magelang ini tepaksa untuk menahan terlebih dahulu penjualan ayamnya. Hal tersebut dilakukan karena anjloknya harga jual ayam di pasaran.

Salah satu peternak ayam potong, Waluyo (53), mengatakan, ayam yang dipeliharaannya bobotnya sudah melebih standar ayam pada umunya. Namun demikian, pihaknya tidak berani menjual ayam potong tersebut karena berbenturan dengan harga jual ayam yang anjlok.

“Otomotis kalau peternak kebingungan juga. Masalahnya untuk peternak saat ini ayam sudah melampau target bobot, tapi kenyataan nggak bisa ngeluarkan karena terbentur sama harga,” kata Waluyo saat ditemui di lokasi kandang ayam Gadungan, Pasuruhan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Selasa (25/06/2019).

“Lagian untuk kadang yang model close house seperti ini untuk operasionalnya semakin lama, semakin membengkak jadi otomatis peternak merasa kerugiannya berlipat ganda,”lanjut dia.

Ia menjelaskan, seharusnya pada umur 35 hari sudah bisa dipanen, namun ayam sampai umur 39 hari belum bisa keluar. Hal ini dikarenakan anjloknya harga.

“Misalnya untuk panen yang harusnya umur 35 kemarin sudah panen, ini sampai umur 39 ayam belum bisa keluar karena terbentur harga juga. Kalau harga masih seperti ini, otomatis peternak yang susah,” jelas dia yang saat ini memelihara 17.000 ekor ayam.

Adapun untuk harga per kilo di peternak, jelas dia, harganya bervariasi. Kendati demikian, info yang diperolehnya ada yang mengklaim Rp 6.000, ada yang Rp 8.000.

“Harganya macem-macem ada yang infonya Rp 6.000, ada yang Rp 8.000. Tapi untuk hari ini, tadi pagi sudah dikasih tahu untuk standar harganya mau disamakan sekitar Rp 10.000,” tuturnya.

Pihaknya menyebutkan, pada Lebaran kemarin harga per kilo bisa tembus Rp 18.000. Kemudian untuk rata-rata yang umumnya sebesar Rp 15.000 ke atas. Saat ini, harga ayam yang murah diperkirakan karena stok yang melimpah.

“Kemungkin terlalu banyak stok karena Lebaran stok banyak nggak habis jadi ayam sampai bobot 3 kg belum bisa keluar. Nah akhirnya, barang melimpah terus umur-umur yang belakangan sudah nyusul makanya stok melimpah jadi harga banting. Mau nggak mau yang besar-besar harus keluar,” ujar dia.

Diakui pula jika nantinya distandarkan dengan harga Rp 10.000, kata dia, peternak juga masih dalam kondisi merugi. Menurutnya, idealnya minimal Rp 15.500 sampai Rp 16.000.

“Kalau harga segitu (Rp10.000) peternak jelas rugi banyak. Minimal Rp 15.500 sampai Rp 16.000, itu minimal untuk standarnya, kemungkinan tidak rugi kalau segitu. Tapi kan biasanya harga di atas Rp15.000 terus, ya baru kali ini untuk harga sampai di bawah Rp10.000, maka kita juga prihatin sekali untuk saat ini peternak mau gimana nggak bisa berkutik,” tuturnya.

Menyoal tentang aksi bagi-bagi daging ayam gratis besok, ia menuturkan tidak akan ikut karena masih peternak baru dan belum tau tujuan dari dilakukannya akasi tersebut untuk apa.

“Itu kemungkinan kalau kita nggak karena kita juga peternak masih pemula, jadi kita belum berani untuk lari kesitu, tujuannya juga kita belum tahu untuk itu tujuan apa, kita belum tahu,” ujar dia. (Hari-harianindo.com)