Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak menampik adanya biaya pendaftaran agar Jakarta menjadi tuan rumah ajang FIA Formula E. Anies mengumpamakan dengan ada pemasukan yang diterima DKI pasti juga pengeluaran.

“Jadi tidak mungkin dalam sebuah kegiatan hanya ada pemasukan tidak ada pengeluaran, betul kan?” kata Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat, 19 Juli 2019.

Anies enggan menjelaskan berapa biaya yang harus dikeluarkan pemerintah DKI. Namun, dia memberikan kepastian bahwa sudah memegang skema perhitungan pengeluaran dan pemasukan alias economic assessment dari penyelenggaraan Formula E.

Menurut Anies, akhir Agustus ini diperkirakan kontruksi pembiayaan akan segera selesai. “Tapi tidak untuk diumumkan dulu,” ujarnya.

Salah satu sumber dari harianindo di Balai Kota mengatakan bahwa pemerintah DKI perlu mengeluarkan uang untuk menjadi tuan rumah Formula E. Untuk pendaftaran sebagai tuan rumah, biayanya sekitar 100 ribu euro atau Rp 1,4 miliar. “Ternyata perlu bayar untuk bisa jadi tuan rumah Formula E,” ucap dia, Selasa, 16 Juli 2019.

Lewat Instagram-nya, Anies mengklaim berhasil melakukan negosiasi dengan pimpinan ajang balap mobil kursi tunggal yang menggunakan energi listrik Formula E, yaitu Alexandro Agag dan Alberto Longo. Dari hasil negosiasi tersebut keduanya mencapai kesepakatan untuk mengadakan E-Prix di Jakarta pada 2020.

Menurut Anies, sejak tiga bulan lalu persiapan pertemuan telah dilakukan. Tim dari Formula E juga sudah datang ke Jakarta untuk melakukan uji lapangan pada 8-9 Juli lalu. “Puncak pertemuan dibuat tanggal 13 Juli 2019, bersamaan dengan putaran final sesi 6 Formula E,” kata dia.

Formula E atau Formula Electric adalah balapan mobil listrik. Berbeda dengan Formula 1, semua kendaraan dalam Formula E bertenaga listrik. Ajang balapan yang bernaung di bawah Federasi Otomotif Internasional (FIA) ini dipercaya sebagai balap mobil masa depan karena tergolong ramah lingkungan. (Hari-harianindo.com)