Jakarta- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.188 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (05/08) pagi. Angka tersebut menunjukkan pelemahan tipis 0,02 persen dibandingkan dengan penutupan Jumat (02/08) lalu sebesar Rp14.185 per dolar AS.

Pagi hari ini, terjadi penguatan terhadap dolar Amerika dari sebagian besar mata uang Asia. Ringgit Malaysia menguat 0,04 persen, dolar Singapura menguat 0,07 persen, baht Thailand menguat 0,07 persen, dan yen Jepang menguat 0,29 persen. Sementara itu, peso Filipina melemah 0,35 persen, won Korea Selatan melemah 0,48 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,02 persen.

TIdak hanya itu, mata uang negara maju juga mengalami penguatan terhadap dolar Amerika. Euro menguat 0,18 persen terhadap dolar AS dan poundsterling Inggris menguat 0,05 persen, namun dolar Australia masih pada posisi tetap terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT GarudaBerjangka Ibrahim menyatakan bahwa risiko perang dagang kembali muncul ke permukaan setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk membebani bea masuk impor bagi produk China senilai US$300 miliar.

Risiko perang dagang ini baru saja digencarkan oleh Trump setelah bank sentral AS The Fed menurunkan suku bunga acuannya 25 basis poin.

Hanya saja, pelemahan rupiah tertahan akibat data ekonomi AS yang melandai. Dikutip dari Reuters, indeks dolar AS sempat melemah lantaran data ketenagakerjaan AS hanya melansir jumlah pekerjaan baru meningkat 164 ribu pekerja atau melambat dibanding Juni yakni 224 ribu pekerja.

Sejatinya, penurunan tenaga kerja tersebut menyebabkan para pelaku pasar memprediksi bahwa bank sentral AS The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya pada September mendatang.

“Sehingga pada Senin rupiah akan ditransaksikan di level Rp14.180 hingga Rp14.240 per dolar AS,” ucap Ibrahim, Senin (05/08). (Hr-harianindo.com)