Jakarta – Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I dan II 2019 mengalami perlambatan, namun Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memiliki asa bahwa pada tahun 2024 angka pertumbuhan bisa menyentuh 6 persen.

“Kami yakin pertumbuhan ekonomi ke depan akan terus naik, memang agak slow di awal, tapi bakal lebih cepat kedepan,” ujar Perry pada Jumat (09/08/2019).

Meski iklim perekonomian internasional sedang terombang-ambing, namun BI akan mengupayakan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui kebijakan-kebijakan stimulus.

“Tahun ini memang masih di bawah 5,2 persen, tapi within the next 5 year kita bisa tembus 6 persen,” kata Perry.

Salah satu langkah pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi adalah sektor wisata. Melalui program transformasi ekonomi, 10 daerah tujuan wisata mulai dikembangkan sehingga menjadi sumber pendapatan di bidang pariwisata selain Bali.

“Ada Wakatobi, Labuan Bajo. Kita dorong transformasi ekonomi untuk pemerataan,” ungkapnya.

Tak hanya di sektor wisata, kewirausahaan di bidang ekonomi kreatif juga berpotensi mendongkrak percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan penuturan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, efek dari ekonomi kreatif dan digital dapat dirasakan Indonesia pada tahun 2045.

“Kami melihat tahun 2045 ekonomi digital bisa menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, startup yang muncul saat ini baik yang sudah decacorn dan unicorn atau masih awal, akan menjadi masa depan entrepreneur Indonesia,” ujar Bambang pada Selasa (23/07/2019). 

Berbeda dengan sebelumnya, kini Indonesia mengalami gejala pertumbuhan wirausaha yang lebih pesat. Hal ini dapat dilihat dari besarnya kreatifitas generasi muda di sektor ekonomi digital. Atas dasar itulah, Bambang memandang wirausaha adalah kunci untuk memajukan perekonomian Indonesia di masa mendatang.

“Indonesia hanya bisa jadi negara maju kalau semakin banyak jadi entrepreneur, bukan semakin banyak jadi PNS,” kata Bambang. (Elhas-harianindo.com)