London- Pemerintah Inggris mengeluarkan keputusan untuk melarang anak-anak penduduk mereka yang menjadi anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) untuk kembali. Sampai saat ini tercatat ada 30 anak warga Inggris yang ditahan bersama dengan orang tua mereka di kamp-kamp di bagian utara Suriah.

Seperti dilansir Independent, Selasa (13/08), para pengikut ISIS itu masih dalam tahanan lantaran berniat untuk kabur ketika basis pertahanan terakhir di Suriah diserang secara membabi buta oleh pasukan koalisi Kurdi dan Amerika Serikat. Awal tahun ini, bayi laki-laki dari Shamima Begum, seorang remaja yang melarikan diri dari rumahnya di Bethnal Green, London, untuk bergabung dengan ISIS, diketahui tewas beberapa pekan setelah mereka tiba di salah satu kamp di Suriah.

Merespon hal tersebut, mantan menteri luar negeri Inggris, Jeremy Hunt, bekerja sama dengan Menteri Pembangunan Internasional, Penny Mordaunt, guna mengkaji kemungkinan anak-anak itu bisa kembali lagi ke Inggris dengan kondisi selamat.

Di sisi lain, mantan menteri dalam negeri Inggris, Sajid Javid, menentang rencana untuk memulangkan anak-anak tersebut. Menurutnya, meskipun kamp-kamp Suriah kerap dikunjungi oleh petugas bantuan Inggris dan wartawan, akan sangat berbahaya jika Inggris mengirimkan pasukannya untuk menjemput anak-anak pengikut ISIS di Suriah dan membawanya pulang.

Javid mengkhawatirkan jika anak-anak itu dipulangkan ke Inggris, orang tua mereka dapat memiliki alasan kuat untuk ikut kembali ke Inggris. Namun, pihak Kurdi yang bertanggung atas kamp-kamp penampungan di Suriah menyatakan bahwa keputusan Inggris menelantarkan anak-anak di zona perang adalah suatu keputusan yang salah besar.

Penyebabnya adalah hal itu akan membuat anak-anak dengan mudah direkrut menjadi teroris. Mereka juga menjadi punya alasan untuk balas dendam di kemudian hari lantaran ditelantarkan pemerintah Inggris.

“Jika anak-anak tersebut tidak kembali ke negara asal mereka, direhabilitasi dan dipersatukan kembali dengan komunitasnya, mereka akan menjadi teroris di masa mendatang,” ujar kepala pejabat urusan luar negeri pemerintah Kurdi, Abdulkarim Omar.

“Anak-anak ini dibawa ke lingkungan teroris dan dipengaruhi dengan ideologi teroris ISIS, khususnya mereka yang berusia di atas delapan tahun. Tinggal di lingkungan kamp radikal berarti menciptakan generasi penerus teroris yang akan menjadi ancaman bagi kita dan seluruh komunitas internasional,” lanjut Omar.

Selain Inggris, sejumlah negara Eropa lainnya telah memulangkan anak-anak yang terlantar di Suriah. Namun, Perancis, Jerman, Norwegia dan Denmark hanya memulangkan sebagian kecil dari mereka.

Kebanyakan anak-anak itu merupakan yatim piatu, lantaran orang tua mereka telah tewas saat melakukan peperangan di Suriah. Australia pun baru-baru ini diketahui telah membawa delapan anak dan cucu dari dua warganya yang menjadi anggota ISIS.

Sementara, sebanyak 70 ribu wanita dan anak-anak yang melarikan diri dari ISIS kini sedang ditahan di sejumlah kamp oleh Pasukan Demokatik Suriah (SDF), yang anggotanya terdiri dari milisi Kurdi.

Saat ini, kamp al-Hol di Suriah menjadi kamp terbesar. Di sana ada sekitar 11 ribu warga asing.

Pasukan SDF juga menahan 800 warga Eropa yang menjadi pejuang ISIS. Kelompok pemerhati hak asasi manusia juga sempat melontarkan kritikan terhadap kondisi di kamp al-Hol karena dianggap jorok dan tidak diurus dengan baik. (Hr-harianindo.com)