Beijing- China naik pitam atas rencana Amerika Serikat masih melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan, termasuk puluhan jet tempur F-16, Rabu (21/08).

Beijing mengeluarkan ancaman akan melakukan apa saja demi menanggapi rencana Washington tersebut, termasuk menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan Negeri Paman Sam yang terlibat dalam penjualan senjata senilai US$8 miliar itu.

“China akan mengambil seluruh tindakan apa pun untuk mengamankan kepentingan kami, termasuk dengan menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan AS yang berpartisipasi menjual senjata ke Taiwan,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, di Beijing.

Geng beranggapan bahwa penjualan senjata itu “merupakan intervensi serius dalam urusan internal China”. Ia juga menuding rencana AS itu merendahkan kedaulatan dan kepentingan keamanan China.

Beijing menjelaskan bahwa telah melayangkan protes diplomatik terhadap rencana penjualan senjata itu.

Tak hanya menekan membatalkan penjualan senjata, Presiden Xi Jinping bahkan menekan Presiden Donald Trump untuk menghentikan transaksi senjata dan kontak militer dengan Taiwan.

Ancaman sanksi itu diutarakan China menyusul keputusan Kemlu AS yang menyetujui penjualan 66 F-16 ke Taiwan.

Penjualan F-16 ini disetujui oleh AS-Taiwan ketika Taipei sedang berupaya memperkuat pertahanan udaranya di saat frekuensi pesawat militer China yang menerobos wilayah udaranya terus meningkat.

China sendiri beranggapan bahwa Taiwan sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya di bawah prinsip “Satu China.” Namun, Taiwan selalu menyerukan kemerdekaan penuh dari China.

Sementara itu, AS memang merupakan negara pemasok senjata utama bagi Taiwan. AS sebenarnya tidak memiliki hubungan resmi dengan Taiwan.

Namun, di bawah Taiwan Relation Act yang diteken pada 1979 lalu, AS memiliki keterikatan hukum untuk membantu Taiwan mempertahankan diri, terutama dari sektor pertahanan dan keamanan. (Hr-harianindo.com)