Jakarta – Raga Eka Darma, selaku terdakwa kerusuhan 22 Mei mengklaim bahwa ia mendapat perlakuan kekerasan dari anggota Brimob yang berjaga saat kerusuhan di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat.

Menurut Raga petugas berbaju preman menangkapnya usai menyanyikan yel-yel di sekitaran Bawaslu pada 21 Mei. Polisi berseragam kemudian mencekik bagian belakang leher Raga. Polisi juga memelintir tangan kiri Raga ke arah punggung belakang.

“Sesak makanya saya lemas. Saya lemas tidak bisa bangun,” kata Raga di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 21 Agustus 2019.

Raga mengklaim sempat ditinggalkan Polisi. Tak lama kemudian petugas melihat Raga dari kejauhan dan membawanya ke pos keamanan di Bawaslu. Awalnya, dia sempat melarikan diri saat penangkapan. Raga menyatakan bahwa petugas berbaju preman yang menangkapnya pertama kali. Dia pun diserahkan ke Brimob, lalu terakhir dibawa ke pos Bawaslu oleh polisi berseragam preman.

Saat itu Raga memutuskan masuk di tengah kerumunan massa ketimbang membubarkan diri dan turut menyanyikan yel-yel.

Bunyinya, “Tugasmu mengayomi tugasmu mengatomi.”

Di sisi lain, polisi telah mengimbau peserta aksi untuk pulang mengingat unjuk rasa telah melewati batas waktu yang maksimal hingga 18.00 WIB. (NRY-harianindo.com)