Kolombo – Setelah memberlakukan keadaan darurat sebagai langkah yang diambil pascaledakan bom bunuh diri di sebuah gereja di Kolombo, pemerintah Sri Lanka akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa darurat yang telah berlangsung selama empat bulan itu.

Diketahui bahwa pada tanggal 21 April 2019, tiga gereja dan tiga hotel mewah di kota besar Kolombo meledak akibat aksi bom bunuh diri. Belakangan ditemukan bahwa ISIS merupakan dalang dibalik insiden tersebut.

Sebelumnya, Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena sempat memperpanjang keadaan darurat setiap bulan pada tanggal 22. Namun pada bulan ini, diumumkan bahwa Presiden Sirisena tak lagi memperpanjang masa darurat.

“Presiden tidak mengeluarkan maklumat baru yang memperpanjang keadaan darurat pada periode selanjutnya,” ujar sumber kepresidenan, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Pemerintah Sri Lanka sengaja memberlakukan keadaan darurat di negaranya untuk menambah kekuatan aparat keamanan, baik tentara maupun polisi, dalam memburu para pelaku yang terlibat. Selain itu, masa darurat dimanfaatkan untuk memperketat keamanan di Sri Lanka.

Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian Sri Lanka, semua pihak yang terlibat secara langsung dalam insiden pengeboman tersebut telah tewas atau berhasil diamankan. (Elhas-harianindo.com)