Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti lagi-lagi dilempari pertanyaan nyeleneh oleh netizen pengikutnya di media sosial Twitter. Pada Jumat, 23 Agustus 2019, tiba-tiba akunnya dimention dan diminta menjawab pertanyaan ujian akhir sekolah atau UAS terkait penangkapan ikan oleh kapal asing.

“Assalamualaikum, Bu Susi. Saya mau nanya bu, cara kapal asing bisa dapat lisensi buat nangkep ikan di ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) Indo tu (itu) gimana ya bu? Tolong dijawab ya bu itu soalnya kisi-kisi nomor 1 buat besok saya UAS bu. Terima kasih. Wassalamualaikum,” tulis akun @VBaskara.

Susi Pujiastuti yang memang tampak aktif berselancar di media sosial pun dengan sigap menjawab pertanyaan tersebut. Susi secara tegas menjelaskan bahwa kapal asing dilarang menangkap ikan di ZEE Indonesia. “Tidak bisa dan tidak boleh lagi!!!” tuturnya.

Pertanyaan soal UAS yang mendapat jawaban langsung dari menteri itu sontak menjadi pusat perhatian dan viral di media sosial. Netizen menganggap tak perlu lagi ikut bimbingan belajar (bimbel), jika pertanyaan dalam UAS dijawab langsung oleh menteri yang bersangkutan seperti ini.

Bos Susi Air itu menghimbau berulang kali bahwa unreported and unregulated (IUU) fishing merupakan kejahatan transnasional lintas negara. Susi bahkan mengharpakan bahwa IUU Fishing bisa masuk sebagai salah satu resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sejak 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP telah menenggelamkan 516 kapal pencuri ikan. Bahkan, di semester satu 2019, KKP telah berhasil menangkap 67 kapal pencuri ikan.

Penangkapan kapal asing ini membuat produk ekspor produk perikanan Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan mencapai 45,9 persen, yaitu dari 654,95 ribu ton senilai US$ 3,87 miliar setara Rp 53,9 triliun tahun 2015, menjadi 955,88 ribu ton senilai US$ 5,17 miliar atau Rp 72 triliun pada 2018.

Susi Pudjiastuti memaparkan, saat ini sudah dari 157 negara yang menerima produk ekspor hasil perikanan Indonesia. negara tujuan ekspor tersebut adalah Amerika Serikat, Cina, Jepang, Singapura, Thailand, Malaysia, Taiwan, Italia, Vietnam, dan Hong Kong. Adapun 10 jenis komoditas dominan yang dieskpor ialah udang, tuna, cumi-cumi, olaharan rajungan, kepiting, gurita, kakap, dan kerapu. (Hr-harianindo.com)