Jakarta – Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) beranggapan bahwa pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan 61 tokoh Papua di Istana Negara, Jakarta Pusat, hanya sebuah pencitraan.

Andy Irfan, selaku Federasi Kontras Junaeddi bberanggapan bahwa hasil dari pertemuan tersebut sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan Papua.

“Kalau kemarin Jokowi bertemu dengan sejumlah dengan puluhan tokoh, politisi lokal sana, 60 sekian orang itu, dan kemudian malah membahas ada sembilan permintaan, yang sama sekali enggak ada hubungannya dengan penyelesaian krisis di Papua. Hanya pencitraan semata,” kata Andy di Kantor Kontras, Jakarta, Jumat (13/09/2019).

Abisai Rollo, selaku ketua rombongan tokoh Papua yang menemui Jokowi di Istana menyampaikan bahwa pertemuan itu bahkan dirasa aneh oleh Gubernur Papua Lukas Enembe dan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Keduanya mengaku tidak mengetahui pertemuan tersebut.

“Bahkan, Gubernur Papua dan Gubernur Papua Barat merasa tidak tahu dengan pertemuan itu, artinya antara Papua, Papua Barat dan Jakarta tidak ada koordinasi,” kata dia.

Andy juga menyampaikan bahwa penangkapan terhadap aktivis dan warga sipil Papua oleh pihak keamanan sangat bertolak belakang dengan pertemuan di Istana.

“Bahkan, aparat terus melakukan penangkapan terhadap warga sipil, dan tak pernah mengungkap dalang aksi rasisme di Papua,” katanya. (NRY-harianindo.com)