Jakarta – Menghadapi ancaman radikalisme, Wakil Rektor Universitas Indonesia (UI) Bambang Wibawarta mengatakan bahwa Indonesia harus mengubah sistem pendidikan dasar dan menengah sebagai upaya preventif. Selain radikalisme, ancaman yang disebutkan oleh Bambang antara lain kebangsaan, kesehatan, dan narkoba.

“Butuh perhatian serius dan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan dasar dan menengah untuk mengatasi serta mengantisipasi ancaman ini,” kata Bambang di gedung PB Nahdlatul Ulama, Kamis (19/09/2019).

Dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Bambang mengatakan bahwa pengaruh radikalisme telah masuk ke dalam sekolah dasar dan menengah dengan kedok pendidikan agama. Padahal niatan aslinya adalah untuk menggalang dukungan demi melawan pemerintahan yang sah.

Paparan tersebut juga akan mengancam fondasi kebangsaan di Indonesia. Paham radikalisme senantiasa merongrong UUD 1945 dan Pancasila agar diganti oleh sistem pilihan mereka.

Sementara dari segi kesehatan, Bambang memandang adanya peningkatan terhadap kerentanan anak-anak usia pendidikan dasar dan menengah terjangkit penyakit. Tak hanya penyakit, narkoba pun juga menjadi ancaman lantaran sudah banyak anak-anak yang terpapar zat haram tersebut melalui makanan hingga pergaulan sebaya.

Keempat ancaman tersebut, lanjut Bambang, semakin cepat persebarannya berkat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Terlebih, masyarakat semakin gampang mengakses informasi macam-macam dengan menggunakan gawai pintar yang sudah merajalela di dalam masyarakat.

“Siapapun kini bisa memiliki telepon selular, dalam satu telepon selular itu terkuak berbagai macam informasi dari berbagai macam belahan dunia mulai dari soal pendidikan, belanja, hingga hal negatif ada dalam satu genggaman telepon selular,” ungkap Bambang.

Karena itulah, Bambang mengusulkan adanya strategi kebudayaan yang jelas dan konkret sebagai cara untuk menangkal empat ancaman tersebut.

Langkah konkret pertama, sebut Bambang, adalah pendidikan karakter untuk generasi pemuda agar tak terombang-ambing kala menghadapi perubahan. Langkah berikutnya adalah membangun platform pendidikan nasional dengan memprioritaskan pendidikan karakter.

“Ketiga adalah dengan merevitalisasi dan memperkuat potensi serta kompetensi pendidikan, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat dan lingkungan dalam keluarga,” tandas Bambang. (Elhas-harianindo.com)