Bandung – Wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada Rabu (7/12/2016) diguncang gempa berkekuatan 6,4 SR yang mengakibatkan sekitar 102 orang meninggal dan ratusan orang lainnya mengalami luka-luka.

Penyebab Gempa Aceh Ternyata Tidak Dapat Diprediksi

Menurut peneliti, Sesar Samalanga-Sipopok yang menyebabkan gempa tersebut ternyata luput dari perhatian dan belum ada studi terkait sesar ini.

“Belum ada studi komprehensif tentang karakteristiknya, jadi aktivitas sesar ini tidak terprediksi,” ujar peneliti geodesi deformasi batuan dari Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, Kamis (8/12/2016).

Menurut data, sebenarnya sesar ini sudah oernah menimbulkan gempa pada 1967 silam dengan kekuatan 6,1 SR.

“Ini repot. Gempa berulang, tapi kita tak bisa memprediksinya,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono.

Sesar Samalanga-Sipopok sendiri termasuk dalam kategori sesar mendatar atau lempeng yang bergerak secara horizontal, dengan panjang bidang sekitar 30 kilometer.

Gesekan kedua lempeng bumi menyebabkan gempa dengan panjang bidang mencapai 30 kilometer.

Menurut salah seorang peneliti geofisika dan geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Nugroho Dwi Hananto, wilayah Aceh ternyata dilewati oleh banyak sesar lokal yang jumlahnya hingga mencapai ratusan yang belum teridentifikasi.

“Selama ini perhatian para peneliti baru ke patahan Sumatera,” tutur Dwi Hananto.

Sedangkan Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat PVMBG, Sri Hidayati mengatakan, keberadaan sesar lokal sebenarnya dapat dilihat dari morfologi permukaan dengan menggunakan citra satelit.

“Kalau geologi bisa melihat dari kelurusan morfologinya,” kata Sri Hidayati.
(samsul arifin – harianindo.com)