Jakarta – Mysophobia adalah ketakutan berlebihan terkena kuman. Penderita bakal bersikap yang tidak biasa. Mereka akan mengalami gemetar, jantung berdebar-debar, berkeringat atau bahkan menangis ketika dirinya merasa terkena kotoran atau kuman bakteri.

Kenali Beberapa Gejala dan Sikap Penderita Mysophobia

Gejala ini juga dapat terjadi ketika penderita melihat objek fobianya seperti saat menggali tanah atau percaya bahwa dirinya telah terkontak kuman akibat berjabat tangan dengan orang lain atau memegang tombol pintu.

Ketakutan yang tidak sehat mengenai kontaminasi bakteri atau kuman disebut dengan mysophobia. Seorang presenter hiburan terkenal Howie Mendel yang membawakan acara Deal or No Deal salah satu penderitanya.

Mendel tidak pernah berjabat tangan dengan para peserta atau siapapun yang ditemuinya. Hal ini terkait dirinya sangat fobia jika terkontaminasi bakteri dari luar.

Sebagaimana diberitakan Phobias pada Sabtu (18/3/2017), mysophobia seringkali berkaitan dengan ganguan mental obsesif-kompulsif (OCD). Salah satu gejala yang paling umum dari mysophobia adalah sering mencuci tangan, yang juga merupakan gejala dari OCD.

Namun motivasi mencuci tangan ini berbeda. Jika orang yang OCD terdorong untuk meringankan penderitaan yang dialaminya sedangkan orang mysophobia dipaksa melakukannya untuk menghilangkan kuman. Beberapa orang OCD terkadang juga menderita mysophobia.

Penderita mysophobia juga memiliki kelakuan aneh atau tidak biasa seperti mandi beberapa kali dalam sehari, seringkali menggunakan pembersih tangan dan tidak mau menggunakan toilet umum, menolak berbagi makanan dengan orang lain serta menghindari menggunakan transportasi umum.

Karena orang yang mysophobia sangat takut terkontaminasi kuman dari orang lain, maka hal ini dapat membatasi lingkungan sosial dirinya seperti menghindari pertemuan yang mengharuskannya bertemu banyak orang serta menghindari kontak fisik dengan siapapun.

Seiring berjalannya waktu, perilaku ini dapat membuat penderitanya seperti terisolasi karena belum tentu orang-orang disekitar dapat mengerti kondisinya.

Tapi mysophobia bisa dikelola dengan baik. Karenanya penting untuk mengunjungi ahli kesehatan mental untuk mendapatkan terapi perilaku kognitif dan terkadang dibutuhkan obat medis. Tapi hal ini tergantung dari seberapa parah fobia yang dimilikinya.

Selain itu terapis juga akan mendorong pasien untuk mengeksplorasi akar dari ketakutannya sehingga dapat mengontrol gejala yang ada. (Tita Yanunatari – harianindo.com)