Jakarta – Cagub DKI Jakarta petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), hari ini Senin (13/3/2017) mengunjungi keluarga Nenek Hindun yang berada di Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Hari Ini Ahok Kunjungi Keluarga Nenek Hindun

Ahok datang pada sekitar pukul 09.15 WIB. Pertemuan Ahok dengan pihak keluarga Nenek Hindun dilakukan secara tertutup sehingga mediahanya diberikan kesempatan untuk mengambil gambar sebentar saat Ahok baru datang di rumah tersebut.

Sebelumnya, putri Nenek Hindun yang bernama Sunengsih (46), putri Hindun, menceritakan bahwa ibunya meninggal pada Selasa (7/3/2017). Setelah memandikan jenazah di rumah Sunengsih kemudian pergi menuju Musala Al-Mu’minun yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.

“Saya ngomong ke Ustaz Syafi’i (pengurus musala, red), ‘Pak Ustaz, ini ibu saya minta disalatkan di musala bisa nggak?’ Pak Ustaz langsung jawab, ‘Nggak usah, Neng, percuma. Udah di rumah aja. Entar saya pimpin’. Memang benar sih dia pimpin, saya bilang, ‘Ya udah’,” tutur Sunengsih saat ditemui di rumahnya, Jl Kramat Raya 2 Gang CC RT 9 RW 5, Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (11/3/2017).

Meskipun Pak Ustaz bersedia menshalatkan ibunya di rumah namun Sunengsih masih sedikit kecewa karena tidak dapat memenuhi keinginan ibunya untuk dishalatkan di musala. Apalagi muncul kabar bahwa Musala Al-Mu’minun memang menolak menshalatkan jenazah pendukung penista agama.

Cerita tentang Nenek Hindun ini kemudian menyebar dari mulut ke mulut hingga terdengar oleh Lurah dan Camat setempat sehingga mereka menyempatkan diri untuk datang ke rumah duka guna mengetahui cerita yang sebenarnya.

Namun salah seorang tetangga Sunengsih yang bernama Syamsul Bahri justru mempunyai cerita yang berbeda. Menurutnya, warga di sana turut membantu dan melayat jenazah Nenek Hindun.

“Waktu itu saya baru pulang dari kantor, berita duka terdengar di musala-musala RW 5. Itu pergerakan secara otomatis, kalau warga RW 5 itu untuk berita duka cepet gotong royongnya. Saya bersama pengurus masjid, Ustaz Syafi’i, langsung ambil pemandian mayat di masjid lainnya, kita dorong, kita siapkan, kita hubungin pemandi mayat,” tutur Syamsul.

“Pemandi mayat orang PKS, tapi mereka nggak lihat pilihan, yang mandiin, papan, sampai ambulans mereka menghubungi Golkar dan PDIP itu nggak ada, lagi penuh. Akhirnya dari timses Gerindra. Dari RW punya inisiatif untuk memanggil ambulans. Akhirnya datang, ambulans Anies-Sandi. Itu kan tidak melihat perbedaan, tetap dukung, karena itu kan warga kita,” sambungnya.

Ketika ditanya soal pihak musala yang menolak agar Nenek Hindun tidak dishalatkan di sana, Syamsul Bahri menjelaskan bahwa memang karena waktunya tidak memungkinkan.

“Ustaznya salatin dan warga ikut salatin. Untuk klarifikasi bahwa musala tidak mau mensalati itu salah. Karena waktu yang membuat seperti itu. Kenapa? Meninggal pukul 13.30 WIB. Pemandian jam 17.00 WIB, pemandiannya, rempah-rempahnya itu butuh waktu. Abis dari pemandian selesainya jam 17.30 WIB masuk ke rumah, karena kebetulan rumahnya gangnya sempit. Warga ngelayat langsung pulang, karena kalau tidak langsung pulang, rumahnya penuh,” ujar Syamsul.

“Sampai situ mandiin, kafanin, doain, keluarga cium itu ada proses waktu. Kira-kira selesainya jam 18.00 WIB kurang. Cuaca waktu itu sudah gelap, mau hujan besar. Kalau kita ke musala lagi, itu akan memakan waktu, jangan sampai ke kuburan itu malam. Akhirnya inisiatif ustaz dan tokoh-tokoh abis mayat ditutup langsung disalatin di situ. Kebetulan kalau di musala jemaah kita belum pada pulang kerja, ada yang berdagang,” sambung Syamsul.

“Sampai selesai salatin jam 18.00 WIB lewat, langsung ke ambulans biar nggak kemaleman. Sesudah di ambulans pas perjalanan di Kuningan macet, sampai di Kuningan hujan besar itu jam 18.30 WIB. Sampai selesai jam 19.00 WIB kurang. Ada warga yang ikut, ada yang nggak ikut, karena ada yang punya keperluan, jadi saya klarifikasi warga pada ikut, tokoh-tokoh juga ikut, termasuk Ustaz Piih (Syafi’i, red) dan pengurus musala,” tuturnya.

Cerita yang sama juga diungkapkan oleh Ketua RT 9 RW 5, Abdurrahman (40).

“Semua, RW sini, kalau ada kejadian meninggal di rumah, kalau salat bisa di rumah bisa di musala. Almarhumah Bu Hindun di rumah karena waktunya mepet kali ya,” tutur Abdurrahman.
(samsul arifin – harianindo.com)