Jakarta – Rudi, seorang bocah muslim Papua yang terlahir dari keluarga Kristen menyampaikan pengalamannya. Walaupun berbeda keyakinan, kehidupan keluarga tetap berlangsung harmonis. Sang ayah bukan hanya tidak mempermasalahkan pilihan agama anaknya, namun justru mendukung proses pendidikannya memperdalam ilmu agama Islam.

Pria Non Muslim Ini Dukung Anaknya Belajar Islam di Ponpes

Rudi Bersama Ayahnya

Menurut Abdul Wahab, seorang aktivis Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini sedang menjadi pengajar agama di Bumi Cendrawasih perbedaan agama dalam satu keluarga itu tak menimbulkan masalah sama sekali dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya diperbolehkan memeluk agama yang berlainan dari ayahnya, Rudi bahkan diizinkan untuk belajar di Pondok Pesantren Al Payage yang terletak di Jalan Angkasa Pasir Dua, Kelurahan Angkasa Pura, Distrik Jayapura Utara.

Rudi lahir serta berdomisili di pedalaman Araboda, Kabupaten Jayawijaya. Berbeda dari ayahnya, ibu Rudi juga menganut agama Islam seperti dirinya.

“Rudi setiap hari mengaji, mendengar petuah gurunya Saiful Islam di pondok, dan ia juga mengerti betul pentingnya akhlak terhadap orangtua meski berbeda Agama,” tambah Wahab yang menjadi salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Al Payage tersebut, Rabu (28/6/2017).

Wahab pun mengklaim sering berkunjung ke beberapa daerah dan menemukan kasus-kasus serupa. Dalam satu keluarga kerap dijumpai terdapat tiga agama, yakni Islam, Kristen dan Katolik. Meski demikian, kemajemukan ini sama sekali tak mengoyak keutuhan keluarga tersebut.

“Walaupun mereka satu keluarga tapi beda agama, tapi sungguh tak ada konflik apa pun mengenai keyakinan yang berbeda itu,” cerita Abdul Wahab melalui surat elektronik, Rabu (11/5/2017).

Bagi Wahab, potret seperti ini jelas menohok orang-orang yang selalu menyebar fitnah dan perpecahan atas nama agama. Fakta keharmonisan dan kasih sayang keluarga di Papua tersebut dapat menjadi jawaban atas sebagian orang yang menuduh perbedaan agama sebagai sumber masalah atau konflik.

Baca juga: GNPF MUI Sebut Presiden Jokowi Tidak Lakukan Kriminalisasi Ulama

“Dari kisah ini, seharusnya manusia belajar bahwa sudah sepatutnya seseorang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan persaudaraan yang lebih mendalam dan lebih mendasar dibandingkan kepentingan apapun. Sebab rasa kemanusiaan harusnya tidak dibatasi oleh baju luar dan sekat-sekat primordial seperti agama, suku, ras, bahasa, jenis kelamin, dan sebagainya,” pungkasnya. (Yayan – harianindo.com)